?

Log in

No account? Create an account

8th July 2018

Kuning Lembut

London hari itu berwarna kuning lembut. Menerobos lembaran tipis awan kelabu, cahaya matahari menjangkau tirai sifon jendelanya. Angin menerpa, menggerakkan kain tipis itu bersamaan dengan menempelnya bibir di pinggir cangkir bermotif kamelia. Napasnya terhela, ada sedikit senyum terpulas di bibir tipis yang tertutupi kumis dan janggut itu. Matanya masih menatap layar ponsel di meja. Thumbnail foto seorang pria berambut cokelat terang dengan wajah yang bersih dari kumis dan janggut serta memakai setelan kemeja masih setia terpampang.

Dia masih sulit percaya lelaki itu ada di London. 

Sudah sejak lama dia tahu lelaki itu akan datang. Tapi dia tak mau dihantui kecewa jika hal itu dibatalkan pada saat terakhir seperti yang baru saja terjadi, sehingga dia tidak meninggikan harapannya. Karenanya, saat lelaki itu menghubunginya, sekedar mengabari kalau burung besi yang membawanya berjam-jam dari belahan lain dunia itu akhirnya mendarat di Heathrow, perasaannya membuncah tak terkira. Dia berusaha menahannya tentu saja. Dia aktor kawakan, menutupi emosi? Apa susahnya?

Tapi sepertinya dia tak pernah berhasil mengendalikan perasaannya yang berkaitan dengan lelaki ini. Senyum kecil terpulas di bibirnya saat itu.

Asisten yang sudah menjadi teman dekatnya tentu saja menangkap perubahan wajahnya itu. Kata kenapa ditepisnya halus dengan jawaban semua baik-baik saja. Sesederhana itu.

Walaupun rasanya dia ingin berteriak dan segera berlari menuju tempat si lelaki.

Read more...Collapse )