Kuning Lembut

London hari itu berwarna kuning lembut. Menerobos lembaran tipis awan kelabu, cahaya matahari menjangkau tirai sifon jendelanya. Angin menerpa, menggerakkan kain tipis itu bersamaan dengan menempelnya bibir di pinggir cangkir bermotif kamelia. Napasnya terhela, ada sedikit senyum terpulas di bibir tipis yang tertutupi kumis dan janggut itu. Matanya masih menatap layar ponsel di meja. Thumbnail foto seorang pria berambut cokelat terang dengan wajah yang bersih dari kumis dan janggut serta memakai setelan kemeja masih setia terpampang.

Dia masih sulit percaya lelaki itu ada di London. 

Sudah sejak lama dia tahu lelaki itu akan datang. Tapi dia tak mau dihantui kecewa jika hal itu dibatalkan pada saat terakhir seperti yang baru saja terjadi, sehingga dia tidak meninggikan harapannya. Karenanya, saat lelaki itu menghubunginya, sekedar mengabari kalau burung besi yang membawanya berjam-jam dari belahan lain dunia itu akhirnya mendarat di Heathrow, perasaannya membuncah tak terkira. Dia berusaha menahannya tentu saja. Dia aktor kawakan, menutupi emosi? Apa susahnya?

Tapi sepertinya dia tak pernah berhasil mengendalikan perasaannya yang berkaitan dengan lelaki ini. Senyum kecil terpulas di bibirnya saat itu.

Asisten yang sudah menjadi teman dekatnya tentu saja menangkap perubahan wajahnya itu. Kata kenapa ditepisnya halus dengan jawaban semua baik-baik saja. Sesederhana itu.

Walaupun rasanya dia ingin berteriak dan segera berlari menuju tempat si lelaki.

Mengigit bibir dan mengendalikan napas, dia menyakukan ponselnya. Ada rapat untuk dihadiri. Lelaki itu kemari untuk berkarya, terus maju, membuktikan kemampuan diri. Karenanya, dia juga tidak akan kalah, dia mengembalikan dirinya untuk fokus pada rapat untuk karya yang berikutnya. Untuk menjadi lebih besar, menjadi seseorang yang sebanding saat berdiri dengan si lelaki tinggi yang tidak pernah hilang dari pikirannya.

Satu hari sudah berlalu, tapi perasaannya masih bergejolak tentang kedatangan si lelaki itu. Dia khawatir akan menggangu pekerjaannya, tak berani dia mengirimi pesan untuk bertanya kapan ia punya waktu senggang untuk sekedar tertawa bersama di antara cangkir kopi kafe langganannya. Dalam hal seperti ini saja dia merasa media sosial yang mengecewakannya memiliki sedikit guna. Aplikasi itu nyaris tidak pernah ia buka, kecuali saat kakak atau adiknya meminta. Atau saat dia merasa seperti orang bodoh ingin mengetahui kabar seseorang tapi tak berani bertanya seperti saat ini. Yakin paparazzi memiliki apa yang ingin dia ketahui, dia mengetikkan nama si lelaki di kolom pencarian. Sesuai dugaan, foto-foto si lelaki tampil di layarnya, namun ia terhenyak sendiri di kursi. Senyum lelaki itu berseri. Mungkin itu penyebab matahari bersinar di London hari ini. Setelan kemeja yang dia tahu selalu membuat lelaki itu tak nyaman, justru menguarkan aura lain. Aura yang membuatnya perlu menenangkan diri dengan secangkir teh di pinggir balkon, saat ini.

Dia merindukannya.

Dusta adalah jika ia berkata kebalikannya. Lelaki itu mampu membuatnya tertawa hingga kehabisan napas dan kesulitan berkata-kata. Mana mungkin dia tidak ingin lebih sering bersamanya?

Kesempatan yang terbuka di Amerika luluh lantak sudah, dia tidak mau terlalu mengingatnya. Pun seorang teman kecil cukup untuk sekedar menghibur kekecewaannya.

Tapi kini mereka berada di tanah yang sama, kenapa tidak bisa sekedar bertatap muka?

Bibirnya tergigit lagi. Ponsel itu sudah berada di tangannya, aplikasi pengirim pesan sudah terpampang. Tapi dia masih tidak tahu apa yang harus ditulis pada kolomnya.

Setelah berkali-kali menulis dan menghapus serta merasakan kepercayaan diri merosot hingga di bawah normal, ia memilih untuk mengetuk nama si lelaki di buku telepon ponselnya.

‘Chris H (UK)’

Huruf itu berpendar tak berdosa, namun seolah menantangnya.

Ayolah, apa susahnya. Tanyakan saja kabarnya di lokasi. Kemungkinan terburuknya adalah dia hanya akan tertawa. Saat dia tertawa, kau hanya akan ikut tertawa. Seperti biasa. Ya, seperti biasa. Astaga Thomas William Hiddleston, memang kau ini gadis remaja?

Dengan perasaan tak bernama hasil kombinasi miris, gugup, dan setengah berharap sambungan teleponnya tak terjawab, dia menempelkan ponselnya di telinga.

Sudah beberapa saat, tak ada tanda-tanda sambungannya akan dijawab. Dia sudah mulai mencari dalih dalam kepala.

Mungkin mereka sama ketatnya seperti Marvel. Ponsel para pemain disimpan saat pengambilan gambar. Atau mungkin dia sedang mengambil gambar saat ini. Atau mungkin saat melihat nomorku dia merasa tidak cukup penting untuk menjawab. Atau—

Rantai pikirannya dipotong suara berat berlogat kental di seberang telepon, “ ’Ey mate, what’s up?

Waktu seolah berhenti sesaat. Perasaan terlalu senang ini berbahaya.

“Hey.. Chris… Um, bagaimana syutingmu?”

Astaga pertanyaan itu terdengar semakin bodoh setelah diucapkan.

“Semuanya baik-baik saja, aku baru akan mulai.”

Dia menghela napas, degup jantungnya sudah mulai kembali normal mendengar suara yang masih tidak berubah dari apa yang diingatnya.

Mengiyakan dengan gumaman ringan, dia melanjutkan, “Mereka tidak menyimpan ponselmu saat syuting?”

“Bagusnya sejauh ini tidak.” Ada tawa renyah diujungnya.

Tawa yang membuat dadanya mendadak sesak.

“Jadi aku mudah menghubungimu.”

Dan kalimat lanjutan lelaki itu semakin membuatnya kehabisan napas.

“Aku tahu aku kemari untuk bekerja, tapi aku butuh teman bicara juga. Yah, walaupun ada bagusnya kalau aku bisa berteman dengan mereka yang bekerja di sini, meluaskan koneksi, kau tahu.”

Kesulitannya memberi tanggapan dianggap sebagai gestur untuk terus bicara bagi si lawan bicara. Dan dia bersyukur lelaki itu menganggapnya begitu.

“Tapi tetap saja, ini London, kenapa aku tidak menghubungi teman-temanku di sini kan? Seperti anak itu, tapi sepertinya dia sedang bekerja juga, dan melihatmu dengannya di Amerika, aku tidak merasa ingin menghubunginya.”

Apa dia tidak salah dengar nada cemburu yang sekilas terlintas?

“Kenapa aku tidak menghubungimu saja, kan?”

Tawa lelaki itu akhirnya membuatnya ikut sedikit tertawa.

Namun sebelum ia sempat berkata apapun, si lelaki memotong cepat, “Ah, aku harus pergi sekarang, kuhubungi lagi nanti.”

Nadanya menyiratkan panggilan itu akan segera diputus dari pihak seberang. Refleksnya menahan begitu saja.

“Ah, wait!”

What is it?”

Just don’t broke anything on set, Brother. I’m not there to cover you up.

Ada jeda, lalu tawa.

I’ll keep that in mind, Brother. See ya.

Bye.”

London hari ini berwarna kuning lembut. Selembut senyumnya menatap langit biru yang semburat awan kelabunya ditembus cahaya matahari. Angin hari ini ringan berhembus. Seringan perasaannya yang membuncah senang karena suara, tawa, dan keberadaan seorang lelaki yang berarti baginya.

Error

Anonymous comments are disabled in this journal

default userpic

Your IP address will be recorded