?

Log in

No account? Create an account

Previous Entry | Next Entry

[ Tatoebanashi ] Kroasia

DRIFTERS. WARNET AU. SMUT. ToyoOku. HijiAn. START FROM HERE
----------
.
.

Sore yang cerah namun hening saat Toyohisa menggulung lini masanya tanpa fokus sama sekali. Satu artikel perjalanan, dan saat sadar dia sudah berada di Eropa.
.
.
Kroasia
When I won't give in she just goes along. Standing by my side, sitting home alone. I can make her laugh, and make her cry. She hates the way she loves me sometimes. Once in a blue moon I'll do something right. But she only hears 'I love you' when we're making love.
Lord, I'll always wonder why she love me so much.

.
.

Sudah tiga hari lewat di negeri orang dan dia merasa belum ingin kembali ke tanah air. Menelusuri jalan kecil berkonblok basah, menemukan kedai kopi di pojok pasar beraroma sayur segar, dia hanya butuh lupa Indonesia sejenak.

Ingat akan artikel yang dibacanya, kakinya melangkah menyasar-nyasar mencari museum yang disebutkan. Seorang remaja perempuan seusianya akhirnya yang menunjukkan pintu masuk museum itu. Mengucapkan terima kasih dan sekarang dia berada di dalam ruangan putih penuh barang-barang unik. Beberapa barang rusak, kemungkinan karena emosi si mantan pemilik. Toyohisa berkeliling, membaca beberapa kisah yang dituturkan donatur. Sesekali dia mendengus tertawa. Entah karena cerita yang menggelitik humornya atau hanya karena refleks saja.

Berada di tengah ruangan dan menghela napas melihat ke langit-langit tinggi, dia dihampiri kurator museum. Disapa ramah hingga berakhir ditanyai apa dia ingin memberi donasi. Dia tertawa renyah, berkata tak ada benda yang bisa didonasikan karena hubungannya berakhir tanpa memulai bentuk.

Terlontar begitu saja. Terkadang bicara dengan orang lain yang tidak mengenalmu lebih bisa membuatmu jujur begitu saja.
Saat melangkah keluar dia tertawa dalam hati.

Hubungan? Hancur? Dengan siapa?

Terbayang wajah dua orang dan tawanya menjadi nyata di bibir.

Yang mana pun tak punya bentuk pasti. Seakan tidak riil dan meninggalkan jejak nyata di dunia. Selama ini dia seperti bergantung pada asap bayang semu yang ingin dia percaya itu semua nyata. Hubungan yang seolah rumit, kompleks, penuh filosofi itu bahkan tidak senyata hubungan sederhana cinta monyet anak sekolah menengah.

Kakinya melangkah entah kemana saat pikirannya juga melebar tak jelas tujuannya. Yang menyadarkannya adalah tabrakan ringan yang terjadi kemudian.

"Sorry..." Dia tersadar dan berbalik. Dilihatnya seorang gadis terjatuh dan berusaha berdiri.

"No, I'm sorry..." Gadis itu menyambut uluran tangan Toyohisa untuk membantunya berdiri.

"Oku...?" Tanyanya ragu dan terkejut.

"Eh? Lho, Toyohisa?" Gadis di hadapannya mengangkat wajah dengan ekspresi kaget yang sama.

"Kok ada di sini?"

"Nemenin Ayah meeting... Toyohisa juga, kenapa ada di sini?"

"Jalan-jalan." Jawabnya pendek dengan cengiran yang refleks saja.

Oku hanya mengangguk ber 'oh' pendek, "Oke, gue duluan ya."

"Eh, tunggu, tunggu.." Toyohisa menghentikan Oku yang akan berbalik pergi.

"Ya?"

"Lo pulang nyeker?" Toyohisa mengedikkan dagu ke arah high heels yang dipegang Oku. Haknya patah saat bertabrakan tadi.

"Yah, nanti kalau lewat toko sepatu gue mampir palingan..."

"Gue temenin." Sahut Toyohisa sambil melepas sepatunya.

"Huh?"

"Lo pake punya gue."

"Nanti jadi lo yang nyeker dong?? Ga usah, udah tenang aja..." Menolak dengan tidak enak hati gadis itu.

"Gapapa, kaki gue kuat."

"Etapi sumpah ga usah..."

"Gapapa, udah... Gue yang nabrak juga kan tadi."

Saling tatap, dan Oku jelas kalah dengan senyum persuasif Toyohisa.

"Sorry ya Yo..." gumamnya sambil memakai sepatu Toyohisa yang terlalu besar.

Toyohisa hanya tertawa dan mengambil high heels rusak dari tangan Oku.

Berjalan perlahan sambil bertukar kata seadanya, mereka menemukan toko sepatu di pertokoan dekat pasar.

"Sorry ngerepotin.." Oku tertawa patah begitu mereka melangkah keluar toko.

"Yaelah selow."

Oku tersenyum kemudian, "Makasih."

"Iya, sama-sama," Toyohisa menjawab sambil lalu, "Abis ini lo kemana? Balik hotel?" Pertanyaan itu refleks basa basi saja.

"Iya, tadi sih Ayah nunggu—” Ucapan gadis itu terpotong bunyi perutnya sendiri.

Toyohisa tertawa, Oku mengalihkan pandangan karena malu.

"Gue... Balik sekarang ya?" Panik dan malu Oku itu.

"Makan dulu aja ayo, gue juga laper." Jawab Toyohisa dengan wajah riangnya yang biasa.

Oku tidak bisa membalas apapun saat Toyohisa mulai melangkah. Membawa mereka ke restoran dengan hidangan laut khas setempat.

"Om meeting apaan di sini?" Toyohisa membuka percakapan saat mereka menunggu pesanan datang.

"Enggak, meetingnya kemaren di Jerman. Terus mendadak ibu telepon minta jalan-jalan, mumpung di Eropa katanya." Jawab Oku setelah meneguk air mineral.

Toyohisa mengangguk menanggapi, "Lancar meetingnya?"

Oku menghela napas dan bersandar di punggung kursi. Tangannya memainkan ujung taplak meja, "Ya dan tidak."

Dari situ percakapan berlanjut mengalir. Keduanya sudah terlanjur terbiasa menanggung pengetahuan rumitnya bisnis keluarga di umur semuda itu. Pembicaraan dampak ekonomi global jadi terasa ringan saja.

Ah, dulu rasanya dia sering mengobrol soal ini. Di ruang duduk bercat hijau telur asin dengan jendela tinggi dan sofa empuk. Dengan lawan bicara berambut perak panjang.

"Yo?"

"Eh- iya?"

"Enggak, itu, makanannya udah ada semua..."

Toyohisa segera mengalihkan perhatiannya pada masakan porsi besar di depannya. Topik begitu saja berubah menjadi soal santapan mereka. Toyohisa menganggap hilang fokusnya sesaat tadi itu tak terdeteksi lawan bicara. Tapi Oku menyadarinya dari awal sekali.

"Eng... Yo--" Tapi kalimatnya terputus dering ponsel, "Maaf, sebentar."

Toyohisa mengangguk sambil mengunyah. Oku menjawab panggilan ponselnya sambil agak menoleh, berusaha membuat ruang. Tapi dari sepotong kata yang diucapkan, Toyohisa bisa menebak kalau ayah Oku yang menghubungi. Apalagi si gadis berambut hitam panjang itu berubah ekspresinya saat berujar tertahan, "Hah? Terus aku gimanaa?"

Toyohisa mau tidak mau menatapnya, membuat Oku melirik sekilas sebelum mengakhiri pembicaraan.

"Kenapa?"

"Enggak, itu, Ayah ngabarin, begitu ibu nyampe mereka langsung ikut mini tur keliling Zagreb..."

"Lah terus? Lo mesti balik jam berapa?"

"Balik jam berapa aja..." Oku tertawa patah, "Ini mereka udah jalan, dipikir gue ga mau ikut..."

"Eh, sorry, sorry, gue ga tau, asal ngajak lo makan aja..." Toyohisa merasa bersalah.

"Eh, enggak, gapapa kok," Oku menyanggah tidak enak hati melihat ekspresi Toyohisa, "Gue aja baru tau tadi banget kalau mau pake acara tur-turan..."

"Ya enggak... Ga enak aja gue, lo jadi kelewatan waktu bareng mereka..."

Oku tercenung. Dilihatnya wajah Toyohisa yang mengerenyit. Campuran antara sedih dan bersalah. Dia jadi teringat, ada alasan kenapa Toyohisa begitu mementingkan keluarga.

Tersenyum sedikit berusaha menenangkan, Oku menjawab lagi, "Gue masih seminggu lagi di sini, masih banyak waktu, tenang aja."
Dia mengangguk lagi sambil tetap tersenyum meyakinkan, menjawab pandangan Toyohisa.

"Oh iya, tante Germi apa kabar?" Tanyanya sambil kembali memegang alat makan, berusaha mengembalikan atmosfir.

"Bunda baik, makin rajin beli lipstik."

Jawaban yang terselip candaan itu menjadi tanggapan positif untuk mengembalikan percakapan riang kembali.

Saat perut terisi dan piring menjadi bersih, matahari sudah mulai turun menuju sore hari.

"Abis ini lo mau ke mana kalau gitu?" Tanya Toyohisa sambil bersandar di punggung kursi, kekenyangan.

"Gatau... balik hotel paling.."

Jeda hening. Toyohisa menatap gadis di depannya.

"Temenin gue aja yuk?" Akhirnya terlontar begitu saja dari mulut Toyohisa.

"Kemana?" Oku mengangkat wajah menatap Toyohisa yang tersenyum.

"Jalan-jalan." Toyohisa melipat tangannya di meja, maju tersenyum makin lebar.

Begitu saja awalnya. Dua insan tanpa tujuan, melangkahkan kaki di kota kecil Eropa. Tertawa, berusaha membuat kenangan berwarna, mencoba menghapus rasa yang ingin dilupa.

"Mampir ga?" Toyohisa mengedikkan kepala ke arah salah satu kedai di deretan bar. Mereka sudah sampai kehilangan arah dan masuk ke pelosok entah di mana saat matahari benar-benar menghilang dan bulan mulai muncul.

Oku hanya mengangguk sambil tersenyum simpul. Mereka butuh istirahat, tentu saja.

"Makanya, udah tau jalanan begini, pake high heels." Toyohisa bercanda di gelas entah ke berapa berisi hidangan bir lokal.

"Gapapa sih, kapan lagi ngerjain, nyuruh The Almighty Toyohisa nyeker?" Balas Oku sambil menaruh pitchernya di meja.

Tawa mengapung. Saat reda dan Toyohisa berpikir bahwa sebentar lagi waktunya Oku ambruk, gadis itu malah memulai lambat-lambat, "Gue kira lo ga bakal inget gue."

Toyohisa terdiam. Oku tersenyum simpul, meminta tambahan gelas untuknya sendiri dengan gestur tangan ke arah si pemilik.

"Mana mungkin gue lupa orang yang rebutan buket bunga sama gue di nikahannya Anya."

Ah, lidahnya pahit menyebut nama yang tidak biasa. Satu gelas lagi mungkin bisa menghilangkannya. Maka dia pun memesan tambahan dengan gestur tangannya.

"Bukan, di nikahan itu justru maksud gue," Oku bersandar di punggung kursi, "Lo bilang lo inget gue, 'temennya Anya'."

Saling tatap, Toyohisa mendengus tertawa, "Harus inget kan? Siapa tahu berguna untuk dikontak join venture. Lo juga inget gue karena itu bukannya?"

Sebagian kelakar sebenarnya, tapi Oku menepisnya, "Lo ada di ingetan gue bukan karena itu.." jawabnya sebelum menatap cairan di gelasnya dan meneguknya habis.

Kedatangan pemilik kedai menaruh pesanan mereka memberi jeda yang tepat.

Berterima kasih sekenanya pada si pemilik, Toyohisa menyambar gelasnya. Pandangannya bertemu buih di gelas saat berucap, "Gue lagi ngerasa hidup di tulisan orang."

Bukan, ini bukan alkohol yang bicara. Dia hanya lelah menahannya di dalam kepala. Ingin dia keluarkan saja seperti saat dengan kurator museum tadi siang.

Diamnya Oku memberi tanda bahwa gadis itu mendengarkan, mempersilakan Toyohisa lanjut bicara.

"Sebelum ke sini gue baca satu artikel ga sengaja, lo tahu judulnya apa?"

Oku menggeleng.

"Beauty," dia menunjuk Oku sambil tetap memegang gelas, "Beer," gelas terangkat, "And Break-ups." Ditutup dengan tatapan mata.

Oku ikut mengangkat gelasnya sambil tersenyum. Keduanya meneguk minuman mereka bersamaan.

Saat gelas mereka kembali kosong namun masih bisa bercakap dengan normal, Toyohisa tahu dia menemukan partner minum yang sanggup meladeninya. Wanita paling kuat sejauh ini yang pernah dia temui. Tapi tetap saja mereka memutuskan beranjak pulang sebelum alkohol benar-benar naik ke kepala. Mereka sadar mereka berada entah di mana dan harus mencari jalan pulang.

Bulan sudah makin meninggi saat keberuntungan dan peta internet di ponsel pintar Oku membawa mereka ke hotel tempat keluarga gadis itu menginap.

"Makasih banyak lho Yo." Tutup Oku sambil tertawa dan bersiap berbalik pergi.

Namun sebelum Oku melangkah menaiki undakan tangga hotel, Toyohisa menahan tangannya.

"Ya..?"

Di jeda waktu saat mereka saling tatap itu Toyohisa sadar, lagi, semua mengalir apa adanya. Dia mengalaminya dua kali dan mengerti sekali akan ke mana semua ini. Baru tadi pula dia berkutat dengan diri sendiri soal hubungan tanpa bentuk pasti. Tapi toh dia sudah penuh luka hati, ditambah sekali lagi tak akan terasa apapun lagi.

Dia sepenuhnya sadar, tanpa pengaruh alkohol sama sekali, saat tanpa berkata apapun dia menarik Oku mendekat dan memejamkan mata, mencium bibir gadis itu lembut. Namun tak ada balasan. Dia melepaskannya, mendapati Oku menatapnya tepat di mata lalu berucap,

"Ga boleh lho Yo, nyium orang tapi kebayangnya orang lain."

Napas Toyohisa tertahan. Ada rasa kaget dan sedikit panik.

"Gue--"

"Anya bulan madu di Perancis," potong Oku, "Kalau mau ngapus dia mestinya jangan lari ke Eropa."

Toyohisa merasa perutnya berputar. Menyadari Oku mengetahuinya dari awal.

"Hati-hati balik ke hotelnya." Begitu saja, Oku berbalik mulai melangkah meninggalkannya.

Saat menatap punggung yang ditutupi rambut panjang lurus itu dia sadar dia diselamatkan. Dia nyaris jatuh lagi ke dalam hubungan tak berbentuk yang sampai kemarin menderanya. Kalau bukan karena penolakan Oku, dia sudah terluka lagi.

Kalau bukan karena Oku..

Kalau..

"Tunggu..!" Toyohisa mengejar menaiki tangga, menggenggam lagi lengan Oku.

Kali ini Oku hanya terdiam menatapnya.

"Besok... Lo mau temenin gue jalan-jalan lagi gak?"

Pertanyaan Toyohisa berhasil membuat Oku mengangkat alis dan berkedip bingung. Tapi melihat wajah Toyohisa yang mengerenyit begitu, bagaimana dia bisa menolak?

"Hn." Oku mengangguk sambil tersenyum sekilas, "Nanti kontakan aja."

Toyohisa mengangguk. Canggung melepaskan tangan gadis itu, dia mengucapkan salam dan membiarkan Oku menghilang lebih dulu di balik pintu hotel sebelum berbalik pergi menuju hotelnya sendiri.

Menutup pintu kamar hotel, Toyohisa menjatuhkan diri terlentang di kasur menatap langit-langit. Mempertanyakan hari macam apa ini. Dia tidak pernah tahu ada hari di mana dia bisa melupakan soal Anastasia dan Hijikata walau hanya beberapa jam saja. Berkat seorang wanita yang dulu hanya sekedar dia tahu ada di dunia.

Teringat Oku, dia mengeluarkan ponselnya yang sudah tidak menyala selama dia Eropa. Sengaja. Dia ingin memutus kontak sementara.

        "Kalau ada apa apa aku pasti kabarin Bunda, tapi nanti di sana aku bakalan matiin hape. Tapi Bunda tenang aja, ya?"

Dia ingat berkata begitu sebelum berangkat ke Eropa.

Sambil melihat layarnya mulai menyala, dia membayangkan seperti apa notifikasinya setelah beberapa hari ponselnya tidak menyala. Namun sesuai dugaan, ponselnya terasa panas hanya untuk menampilkan notifikasi saja. Dari begitu banyak yang masuk, ada dua nama tertangkap matanya, namun dia menghiraukannya. Membalas pesan Bundanya menjadi prioritas sebelum mencari kontak Oku.

Dia lalu mengutuki diri. Dia tidak tahu kontak Oku sama sekali. Memutar otak, dia ingat tadi tidak sengaja melihat Oku mengunggah foto ke akun Instagramnya. Cepat, dia beralih membuka aplikasi itu, dan mengetikkan kata kunci berdasar ingatan sekilas nama akun gadis itu. Mendapati satu akun pasti, Toyohisa mengerenyit saat sadar mereka sudah saling terkait di jejaring sosial itu namun tak pernah benar-benar bertegur sapa.

Setelah hapus-ketik-hapus selama beberapa menit, akhirnya Toyohisa mengirim pesan, 'Please gimme ur number.'

Oke, dia sendiri merasa itu pesan menggelikan. Dia bahkan sempat berdoa sebelum menekan tombol 'kirim'.

            "...ga ada deg-degannya, ga ada gugup jatuh cintanya."

Kata-kata Anastasia itu terngiang. Dulu Toyohisa pikir dia mengerti maksud Anastasia. Dulu dia pikir apa yang dia alami bersama Hijikata itu maksudnya. Tapi kenyataannya dia tidak mengerti sama sekali.

Dia berguling, memiringkan tubuh menatap ponsel yang tadi dia taruh begitu saja setelah mengirim pesan. Berpikir bahwa, sebenarnya baru kali ini dia merasa begini.

Mendengus tertawa, dia mendorong ponselnya dengan telunjuk. Seolah menjentikkannya untuk dahi seseorang di seberang sana. Senyum itu masih ada saat dia memejamkan mata. Setelah sekian lama, akhirnya dia bisa tertidur pulas juga.

Toyohisa sedang menghadapi roti lapis dan secangkir kopi di restoran hotel saat sebuah notifikasi yang ditunggunya muncul. Sigap dia membukanya.

'Sorry, I don't think our company ready for a join venture right now.'

Toyohisa mendengus tertawa. Toh gadis itu mencantumkan nomornya pula. Menyimpannya, Toyohisa berpindah aplikasi.

'Then how about a cup of tea instead?' Balasnya memulai ruang chat baru.

Balasan datang tak lama kemudian.

'Boleh, diundang presdirnya maksi nih.'

Tawa Toyohisa sempat hilang sesaat. Kalau dia tidak salah tangkap, dia akan makan siang dengan Tadanaga. Orang sekaliber Babeh dan Bundanya. Dan dia hanya membawa celana jeans dan kaus. Astaga. Buru-buru dia mencium kemeja flanel satu-satunya yang dia pakai.

Diam sejenak.

Tidak, tidak sebau itu. Dia bawa parfum, jadi mestinya tidak apa-apa.

Merasa yakin, dia mengirim persetujuan sebagai balasan.

Namun keyakinan itu terguncang begitu siang datang. Kausnya bertebaran di kasur hotel. Ditambah terngiang lagi kata-kata Anastasia di kepalanya.

"Baju lo kenapa kalau ga item, merah sih yo? Masa makan kayak mau ke pemakaman?"

Argh.

Dia tidak pernah terlalu memikirkan harus pakai baju apa saat bepergian dengan Hijikata. Pun Anastasia yang malah akan menyusun pakaiannya jika mereka pergi bersama. Menggaruk kepalanya kesal, dia akhirnya berpikir kalau kemeja flanel merahnya sudah cukup cerah, dia memilih kaus hitam akhirnya. Kepercayaan dirinya kembali lagi setelah memakai jeans bersih dan cologne yang dipaksa Bunda untuk dibawa.

Berjalan santai keluar hotel, dan dia sampai di hotel tempat keluarga Oku menginap. Memasuki restoran hotel itu, dia melihat Oku melambaikan tangan padanya dari meja mereka. Dia menghampiri dengan senyum bersahaja yang biasa. Tadanaga menyambutnya dengan ramah seperti yang dia ingat. Menepuk lengannya sambil tertawa dan berkata betapa sekarang dirinya sudah besar. Dia duduk di kursi yang berhadapan dengan Tadanaga setelah menyalami nyonya Tadanaga.

Percakapan terangkat ringan. Makan siang sederhana itu penuh tawa.

"Kamu di sini sampe kapan?" Pertanyaan ringan Tadanaga itu membuat Toyohisa terdiam sesaat.

"Besok aku pulang om."

Toyohisa menjawab sambil tersenyum ke arah Tadanaga, membuatnya tak melihat Oku agak menunduk menutupi kecewa.

"Oh.." Tadanaga mengangguk, "Kamu udah sampe duluan sih ya kemaren.."

"Iya.." Toyohisa dengar dirinya sendiri memulai, "Makanya, hari ini aku boleh pinjem Oku buat temenin jalan-jalan?"

Hajar saja langsung.

Toyohisa menatap Tadanaga lurus-lurus. Keduanya saling tatap, tidak menghiraukan dua wanita yang sama saja kagetnya.

Hening itu dipecahkan kekehan Tadanaga, "Kamu itu anaknya Germi betulan ya."

Toyohisa tersenyum.

"Ya, pergilah. Mumpung masih liburan kan?" Tadanaga menoleh ke arah putrinya yang hanya bisa menatapnya bingung.

"Lagipula," lanjut Tadanaga, "Biar om sama tante bisa bulan madu lagi."

Toyohisa ikut terkekeh bersama tawa lelaki itu.

Setelah sempat ditinggal Oku yang kembali naik ke atas untuk mengambil tas, Toyohisa pamit membawa gadis itu pergi. Berbekal izin dan petunjuk kedua orang tua itu, mereka memutuskan mencari danau yang disebut 'cantik sekali' oleh ibu Oku.

Sempat ada hening canggung saat mereka melangkah.

"Sorry soal semalem." Toyohisa berusaha memecahkannya.

Oku berusaha tersenyum dan menggeleng, "Enggak, gue juga keterlaluan ngomongnya."

Padahal Toyohisa bermaksud berterima kasih karena kata-kata Oku menyadarkannya, tapi sepertinya kesempatan itu lepas begitu saja.

"Lo beneran pulang besok?" Oku bertanya sambil menunggu trem.

"Iya." Toyohisa menjawab pendek.

Oku hanya mengangguk kecil.

"Feed IG lo bagus." Toyohisa berusaha menyambung percakapan, "Tapi kok ga pernah muncul di TL gue ya?"

Oku mendengus tertawa, "Kelelep kali... Gue ngepost kan jarang banget."

Mereka menaiki trem. Cukup ramai, jadi mereka berdiri di bagian luar. Membuat Oku sering sering membenarkan rambutnya yang tertiup angin.

"Tapi ternyata kita udah follow-follow an..."

"Iya, kan dari jaman gala dinner kelahiran Alexei..."

"Anjir, udah lama banget."

"Emang." Oku tertawa melihat wajah kaget Toyohisa.

"Kok lo ga pernah negor di komen atau apa gitu..."

Oku menjawabnya hanya dengan senyuman manis yang tak Toyohisa mengerti.

Mereka berangkat saat matahari sudah melewati titik tertinggi, jadi begitu sampai di tempat tujuan, sejuk menyapa bersama angin sepoi-sepoi.

Keduanya tersenyum senang, merasa tak dikecewakan. Toyohisa mematikan ponselnya lagi. Jadi dibiarkannya Oku memotret sekelilingnya sendiri. Alasan lupa menambah daya baterai dipakainya saat si gadis bertanya, kenapa tidak memasukkan ini di Instagramnya. Tapi toh Toyohisa menjahili Oku dengan mendadak muncul di kamera saat anak perempuan itu mengambil gambar dirinya sendiri. Oku melontarkan kalimat kesal, tapi dalam hati berkata kalau dia tak akan menghapusnya. Itu kenang-kenangannya, barang langka dengan anak lelaki yang dia suka di dalamnya.

Doa murni seperti itu kadang dianugerahi Tuhan suatu hadiah kecil.

"Makanya kalau selfie ngajak-ngajak." Toyohisa masih tertawa-tawa.

Oku sempat terdiam sesaat, "Males ah, muka gue dibandingin selebgram."

"Selebgram apaan sih... sini." Toyohisa merebut ponsel Oku, sekaligus menarik pemiliknya ke rengkuhannya.

Awalnya senyum Oku itu sekaku kayu. Sulit mengendalikan gugupnya lebih dari biasanya. Tapi tawa Toyohisa menular. Semenit kemudian memori ponselnya penuh foto dan video mereka tertawa-tawa di pantai danau.

Rasa lelah yang membuat mereka menyingkir ke salah satu kedai di dekat situ. Tawa yang mencairkan semuanya. Toyohisa merasakan dengan pasti suasana yang menghangat ini.

“Makasih.” Jadi dia memulainya.

“Buat apa?” Oku mengangkat alis bingung sambil memegangi sedotan limunnya.

Ada jeda, Toyohisa kebingungan menyusun kata, “Menuruty gue, lo tahu gue ke sini ngapain, dan buat gue kata-kata,” Toyohisa memotong kalimatnya sendiri untuk membenarkan tenggorokan, kesulitan mengucapkan lanjutan kalimatnya “Dan keberadaan lo ngebantu gue. Makanya gue pengen buru-buru pulang. Beresin perasaan gue di Jakarta.”

Oku terdiam. Otaknya tidak bisa merespon apa yang sedang terjadi. Butuh waktu untuknya menarik napas dan tertawa kecil.
“Enggak Yo, sebenernya gue kelepasan aja… Unek-unek gue selama bertahun-tahun kepancing keluar.”

“’Bertahun-tahun’?” Toyohisa memperhatikan Oku lekat-lekat.

Sudah tidak ada jalan mundur lagi untuknya, Oku tahu itu. Dia mengangguk, “Dari awal di acara keluarga Romanov dulu. Gue pikir dari awal follow-follow an IG itu gue bisa tetep kontakan sama lo. Tapi kenyataannya gue negur aja ga pernah kan?” Oku tertawa patah, “Selama itu gue puas cuma jadi orang yang bisa tahu keadaan lo tanpa berharap lo tahu gue. Selama itu gue mendem perasa—” Oku menutup mulutnya mendadak.

Hening. Toyohisa itu sebenarnya peka sekali kalau dia ingin. Jadi, lanjutan kalimat dan wajah Oku yang mendadak memerah menjadi perkara jelas.

Oku membenarkan tenggorokan, mengalihkan pandangan ke arah danau untuk menutupi wajahnya, “Eropa bisa panas juga ya..”

Toyohisa tersenyum mengerti, “Aa, global warming parah juga ya..”

Oku tahu menghabiskan dua hari bersama anak lelaki yang dia suka itu anugerah. Dia tidak mau meminta lebih dan memaksakan keberuntungannya. Jadi, biarkan begini saja. Apa yang akan terjadi, urusan nanti.

Toyohisa tidak ingin memaksa kondisi. Walau dia tahu sekali, di skenario yang biasanya terjadi, dia akan menarik wajah gadis itu dan menciumnya sebelum mengatakan cinta. Tapi sekali ini saja, setelah semua perbuatannya, dia ingin melakukan sesuatu dengan benar. Dia tidak ingin salah mengartikan semua perasaan ini lalu menyakiti hati seseorang dan dirinya sendiri, lagi.

Hari sudah lepas dari sore dan malam menjelang ketika Toyohisa mengantarkan Oku kembali ke hotelnya. Menemui orang tua gadis itu di sofa lobby, Toyohisa menyapa mereka ramah dan berpamitan segera.

“Lho, kamu ga makan dulu?” Nyonya Tadanaga yang menahannya.

“Nanti aku sendiri aja Tante, belom packing.” Toyohisa menjawab dengan cengirannya yang biasa.

“Pesawat jam berapa kamu?”

“Jam 10 pagi om.”

Kedua orang tua itu menghela napas seolah mengatakan kecemasan anak mereka akan ketinggalan pesawat besok. Toyohisa tidak melepaskan cengirannya.

“Yaudah hati-hati, salam buat Bundamu ya.” Ucap Nyonya Tadanaga sambil mencium ringan pipi Toyohisa.

“Siap Tante.” Toyohisa menjawab pendek.

“Hati-hati.” Tadanaga menepuk punggungnya kelewat kencang.

“Iya om, makasih banyak. Aku pamit ya.” Dengan senyuman khasnya dan anggukan kepala Toyohisa siap berbalik pergi.

Tapi suara Oku yang memanggilnya menahan langkahnya, dia menjawab pendek sambil menatap gadis yang sepertinya sedang menyusun kata-kata itu.

“Nanti kabarin kalau udah sampe Jakarta.”

Mendengar pilihan kalimat itu mau tidak mau Toyohisa mengiyakan sambil tertawa.

Dua bulan sudah semenjak kepulangannya dari Kroasia. Toyohisa sedang mengganti permainan di PS4nya saat St. Germi duduk di sofa dan memulai memanggil namanya dengan nada meminta perhatian.

“Kenapa Nda?” Toyohisa menghampiri dan duduk di samping Bundanya.

“Tadi ada telepon,” St. Germi memulai lambat-lambat. Melihat anak lelakinya memperhatikannya, dia melanjutkan, “Kamu inget om Tadanaga?”

Toyohisa mengangguk, “Tadi dia yang telepon? Om apa kabar?”

Menganggap pertanyaan Toyohisa basa-basi, St. Germi melanjutkan lagi, “Yah, tadi dia ngajakin kita makan malem,” Jeda, “Makan malem ‘yang itu’.” Tambah St. Germi.

Toyohisa terdiam memproses informasi. Bundanya memberi tambahan kode. Kode untuk jenis makan malam yang akan berujung dirinya dipasang-pasangkan dengan anak keluarga lain.

“Terima aja Nda.” Dia dengar dirinya sendiri berkata-kata.

“Yo…” Dia bisa mendengar nada serba salah dari ibunya.

“Yang ini aku ikhlas lahir batin kok. Bunda tenang aja.” Toyohisa menyingkirkan poni yang melintang di wajah St. Germi sambil tersenyum.

“Bukan gitu, Bunda udah ambil keputusan ga mau gini-giniin kamu lagi. Kamu ga harus ngejalanin hubungan itu karena terpaksa, atau karena pelampiasan..”

Mereka saling tatap. Toyohisa bisa merasakan perasaan ibunya sampai padanya.

“Aku ga terpaksa dan ga ngelampiasin apa-apa ke siapa-siapa,” dilihatnya wajah St. Germi masih tidak berubah, “Karena sekarang aku tahu Nda, ga boleh nyium orang tapi pikirannya ke orang lain.”

St. Germi memejamkan mata, memblokir senyum anaknya untuk mengambil keputusan tanpa terpengaruh.

“Oke. Bunda nurut kamu aja. Nanti Bunda bilang kita setuju ikut makan.”

Toyohisa mencium pipi Bundanya penuh sayang, “Aku ke tempat Anya dulu sebentar. Ngambilin kemeja-kemejaku.” Tambahnya cepat sebelum St. Germi sempat bertanya untuk apa.

“Baju lo. Itung dulu ada yang ketinggalan gak.” Toyohisa menyodorkan kantung kertas besar pada Anastasia sambil menaruh diri di sofa empuk, duduk berdampingan dengan Hijikata.

Kerenyitan di wajah Anastasia menjadi pertanyaan yang terlalu mudah bagi Toyohisa.

“Gue mau ngambilin baju-baju gue yang di sini.” Jawabnya pendek, “Tolong ambilin dong, ga enak masa gue masuk-masuk kamar penganten baru.”

Tidak mau melihat Anastasia dan Hijikata saling melempar tatapan bingung, Toyohisa memilih mengambil ponselnya yang berbunyi dari saku.

Dengan sedikit gerakan kepala dari Hijikata, Anastasia menurut dan beranjak pergi.

“Mas baru pulang dari Eropa?” Hijikata memulai.

“Udah lama kok, ga baru-baru amat.” Toyohisa menyakukan ponselnya.

“Kok ga ngabarin?”

Toyohisa menjawabnya dengan tertawa yang menuai pukulan ringan dari Anastasia yang sudah kembali.

“Kalau ditanya, jawab. Jangan malah ketawa.”

“Galak banget sih..” Toyohisa menyambut uluran kantung kertas dari Anastasia.

“Gue berdua bingung, lo ga bisa dikontak.” Lanjut Anastasia menghiraukan komentar Toyohisa.

“Tapi kita tanya ibu, mas ga apa-apa, lagi di Eropa.” Hijikata ikut mendesak melihat Toyohisa memilih mengecek kemeja-kemejanya daripada menatap salah satu di antara mereka.

“Kalau tahu kan bisa jalan bareng Yo.”

Toyohisa menutup kantung kertasnya kelewat kencang. Memberi jeda hening sesaat.

“Terus gue ngapain, Anya? Gangguin lo berdua bulan madu? Ogah amat.” Jawabnya sambil bergantian menatap Anastasia dan Hijikata, “Gue dah dapet kemejanya, makasih yak.” Tutupnya sambil beranjak berdiri.

Tapi tangannya tertahan Anastasia, “Duduk.” Dingin nada Anastasia itu.

Toyohisa menepisnya mudah dengan tatapan lembut, “Apa?”

“Kenapa lo tiba-tiba kayak mau pergi?”

Pilihan kalimat Anastasia cukup mengagetkan Toyohisa, “Ha?”

“Ngambilin baju, seolah ga mau ninggalin jejak. Sebenernya ada apa?”

Toyohisa mencerna lalu tertawa, “Apaan sih? Gue nganterin baju lo ya karena sekalian aja. Ini, kemeja, mau gue pake soalnya kemeja di rumah gue udah pada lusuh.”

“Mas mau ke mana pake baju resmi?”

Toyohisa berbalik menatap Hijikata, “Mau ngelamar anak orang.”

Pasangan itu seperti tersambar petir. Hijikata ikut menarik tangan Toyohisa, membuatnya jatuh terduduk lagi di sofa.

“Detil lengkap.” Anastasia yang bicara. Hijikata cukup mengeluarkan aura tajam dari pandangan mata.

“Wey gila, pada kenapa sih?” Toyohisa tertawa sambil membenarkan posisi duduknya.

“Elo yang gila! Ngilang, tau-tau mau ngelamar anak orang!”

Toyohisa saling pandang dengan Anastasia. Tahu wanita itu sungguh-sungguh mencemaskannya, dia tersenyum. Kantung kertas diletakkan di karpet, dia memegang kedua tangan Anastasia yang berdiri di hadapannya.

“Dulu, kenapa lo ga mau langsung cerita kalau lo suka sama Bang Hiji?” Tanyanya lembut.

Anastasia tidak menduga ini, “Apa..?”

“Kenapa?” Senyuman persuasif mengakhiri kata pendeknya.

Anastasia salah tingkah. Sekilas dia melirik suami yang kebingungan tapi juga menunggu jawabannya. Dia menghela napas, “Gue takut,” mulainya, “Ga percaya diri kalau betulan bakal kejadian.”

Hijikata tercenung mendengar itu.

Toyohisa mengangguk memberi apresiasi, “Gue yang sekarang juga begitu. Makanya, nanti, kalau udah kejadian, gue pasti ngasih tahu kalian. Oke?”

“Bohong.” Anastasia tidak melembut, “Buktinya sebelum ini gue ga pernah tahu siapa pacar lo, dan tau-tau lo putus.”

Toyohisa tertawa canggung, tapi dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Anastasia. Bahkan untuk sekedar melirik Hijikata.

“Ya makanya, belajar dari situ, gue ga akan ulangin lagi..” Mulainya sambil menggenggam tangan Anastasia, “Jadi yang ini pasti gue kasih tahu kalau udah fix. Gue update IG deh.” Tambahnya.

Tak bisa membalas apapun, Anastasia melirik Hijikata yang memberikan anggukan singkat. Dengan itu, mereka akhirnya melepaskan Toyohisa pulang.

Melihat Toyohisa melangkah di pekarangan, Anastasia bersandar di dada Hijikata yang membalas membelai rambutnya lembut, “Tadi dia bilang mau update IG ya?”

“Aa..”

“Notifku jebol lagi deh ini.”

Hijikata mendengus tertawa.

Makan malam itu berjalan lancar. Hubungan dua anak itu dikukuhkan. Dan seperti yang sudah-sudah, para orang tua meninggalkan anak-anak mereka, memberikan ruang berdua.

“Yo, lo apa-apaan sih?” Nada panik dalam rendahnya bisikan Oku tak disangka Toyohisa.

“Apanya apa-apaan?” Toyohisa mengerenyit bingung.

“Lo kenapa mau dijodohin sama gue coba?”

“Ha?” Toyohisa belum melihat arah pembicaraan ini.

“Maksud gue, lo jangan terpaksa Yo… Jangan bilang lo mau karena omongan gue di Eropa..” Oku memegangi pelipisnya, “Gue ga mau ini kejadian cuma karena lo kasian sama gue…” tambahnya dalam nada rendah lain.

Toyohisa akhirnya mengerti. Dia menyentuh tangan Oku sekilas, memberi tanda agar gadis itu menatapnya.

“Gue ga terpaksa,” Mulainya dengan jelas, “Gue udah mikir, dan akhirnya sadar apa namanya perasaan yang lo ajarin ke gue dalam dua hari di Eropa.”

Oku mendengarkannya lekat-lekat.

“Tapi gue ga mau jatoh di tempat yang sama. Gue belajar dari kejadian yang udah lalu, gue ga mau hal itu kejadian lagi. Gue ga sanggup ngebayangin ngejalanin hal kayak gitu sama lo. Lo terlalu berharga untuk digituin,” Toyohisa menggenggam tangan Oku yang mengatupkan bibir rapat-rapat, “Gue pengen perasaan penting yang lo ajarin ini punya bentuk nyata, senyata Kroasia ada di bumi.”

Jeda, Toyohisa menatap lurus mata Oku yang berkaca-kaca, “Will you marry me?”

Gadis itu tidak bisa menahan air matanya. Perasaannya selama bertahun-tahun yang seolah berharap pada kabut pagi hari, bisa menjadi titik air nyata yang jatuh di daun. Perasaan yang dari dulu sering membuatnya mengutuki diri, kenapa menyukai lelaki sampai seperti ini? Sampai membuatnya merasa jadi pengecut yang kalah sebelum bertanding. Tapi ia selalu punya alasan untuk bangkit lagi dan berharap lagi. Hingga Tuhan mungkin melihat tumpukan doanya dan sedang ingin bergurau sedikit, jadi dibagikan kebahagiaan itu pada hambaNya yang meminta tanpa henti.

Oku nyaris tidak bisa menjawab apa-apa selain mengangguk dan melap air matanya dengan punggung tangan. Menarik napas, dia berusaha menenangkan diri.

Ada tawa canggung sebelum dia balas menggenggam tangan Toyohisa dan berkata, “Yes, I will.

Mendengar itu Toyohisa terkekeh sampai merunduk-runduk dan tubuhnya bergetar. Dia tidak menyangka akan merasakan yang namanya lega dan senang sampai seperti ini.

Di kediaman Romanov, Anastasia melangkah cepat-cepat menghampiri suaminya yang duduk di ruang duduk dan langsung menyodorkan ponselnya ketika lelaki itu mengangkat wajah dari buku yang dibacanya.

Hijikata menatap layar ponsel itu seperti mematung. Terpampang Instagram Toyohisa yang menampilkan fotonya dan seorang wanita berambut hitam panjang yang tidak dikenalnya di sebuah restoran. Dia membaca tulisan di bawah foto itu, ‘She said “Yes."’.

Tatapan mata Hijikata cukup untuk Anastasia menjawab, “Itu Oku. Sahabatku dari kecil banget. Astaga. Astaga. Astaga…”

Hijikata menarik Anastasia agar duduk di sebelahnya, menenangkannya yang berjalan mondar-mandir.

“Kamu ga suka mas sama dia?”

“Enggak.” Jawab Anastasia cepat, “Aku ga suka kalau dia cuma terpaksa aja karena dijodohin lagi…” Tambahnya.

Hijikata mendengar perkataan Anastasia sambil memandang ekspresi wajah Toyohisa lekat-lekat, “Tapi yang ini kayaknya bukan karena dijodohin…” Ujarnya.

Tatapan mata Anastasia yang bertanya dan Hijikata menjawab lagi, “Feeling. Nanti kamu pastiin aja ke mas.”

Anastasia mengambil ponsel yang diulurkan suaminya hanya untuk kemudian ditaruh lagi dan beralih memeluk lelaki itu sambil memejamkan mata, “They deserves to be happy. Both of them.

Hijikata mengusap punggung Anastasia lembut, “They will.”

Toyohisa ingat kamar ini, ranjang bertiang ukiran, dan sofa merah itu. Di kamar ini hubungannya dengan Anastasia dulu dimulai. Karenanya dia ingin menimpa semua itu dengan awal yang baru. Karenanya dia memilih hotel ini sebagai tempat mereka berdiam selama bulan madu.

Ada perasaan baru yang dialami Toyohisa saat bisa menenangkan Oku yang penuh peluh dan berkata, “Pelan-pelan Yo…” membuatnya terkekeh jahil sebelum merunduk mencium pelipis wanita itu.

“Santai aja, ga bakal kenapa-kenapa kalau lo-nya rileks…” Dia kembali menegakkan tubuh saat mendapat anggukan sebagai jawaban dari Oku, “Tapi bilang kalau sakit, ya?” Tambahnya sebelum memulai penetrasi.

Toyohisa menahan diri melihat ekspresi Oku dan erangannya. Dia terhenti walau sebenarnya ingin sekali merangsek masuk karena sudah tidak tahan, sudah lama dia tidak merasakan cengkraman sesempit ini. Tapi dia melakukannya perlahan hingga keseluruhannya mendapat kehangatan lembut dari istrinya.

“Kalau udah gapapa, bilang… Gue bakal ajarin pelan-pelan.” Dia mencium pipi Oku lembut. Saat dia turun menuju dada setelah membuat tanda kemerahan di pangkal leher wanita itu, dia merasakan rambutnya dibelai lembut.

“Udah gapapa…” Oku berbisik padanya.

Dia memberikan kecupan di dahi sebelum mulai menggerakkannya perlahan. Selama beberapa saat menikmati ekspresi dan lenguhan istrinya, dia tahu bukan itu tandanya. Penetrasi kasar dilakukannya beberapa kali, dan saat didengarnya desahan nikmat bercampur panggilan akan namanya, dia tahu apa yang harus dilakukannya, melakukannya terus di titik yang sama.

“Otoyo—”

“Hmm?”

“Ada—ahh, yang keluar…”

“Tahan..”

Komando Toyohisa jelas, dan beberapa menit tambahan itu terjadi karena Oku menurutinya. Sebelum akhirnya dia menyerah dan memeluk suaminya erat-erat. Merasakan tubuhnya tak berdaya sesaat, dialiri perasaan puas yang baru pertama dirasakannya.

Toyohisa menatap tubuh berantakan Oku sambil terengah. Saat menyadari ada darah bercampur dengan spermanya yang meleleh keluar dari kemaluan Oku, Toyohisa merasa semuanya menjadi sangat jelas. Perempuan ini, keseluruhannya, adalah miliknya.
Perasaannya membuncah. Berbaring miring di sebelah Oku, Toyohisa merengkuhnya erat-erat, menaruh kepala wanita itu di dadanya. Membuat Oku bertanya-tanya ada apa.

“Uh.. Yo..? Did I do well?”

No, you do great.”

Suara tertahan Toyohisa dan tetesan air yang terasa di pundaknya, membuat Oku balas merengkuh Toyohisa. Punggung besar itu diusapnya lembut, memberi dukungan pada kata yang berusaha diucapkan Toyohisa.

I love you.”

Senyum melebar di bibir Oku mendengar itu, sudah lama sekali dia berharap bisa menjawab, “I love you too.”

Oku agak melepaskan diri, membuat ruang agar dia bisa menangkup wajah Toyohisa yang dialiri air mata, “Kayak lo yang ngajarin gue pelan-pelan, kita juga bisa pelan-pelan belajar tentang satu sama lain. Kita punya seumur hidup sama-sama, tenang aja.” Oku tersenyum, mencium air mata di pipi Toyohisa.

Toyohisa tidak pernah menangis. Dalam ingatan orang terdekatnya, dan bahkan dirinya sendiri, dia yakin dia nyaris tidak  pernah menangis. Tapi malam itu di Roma, dalam dekapan seorang perempuan yang mengasihinya, tembok bendungan itu runtuh. Dia akan membalas lebih keji jika seseorang memberikannya kekerasan dan benci. Tapi dihadapan kasih tulus seorang wanita, dia tidak tahu harus bagaimana lagi selain menyerahkan diri.
.
.
---------------------
.
Author Note:


+


= PUT KELOJOTAN NULIS GINIAN. SELALU BERAT KALAU URUSANNYA BAWA MBA OKU SAMAAA

"Kroasia nyata di bumi. Will you marry me?"

YOU KNOW HOW HARD WRITE DOWN THAT PART?? I FEEL STUPID AND WANNA LYING DOWN QUESTIONING MY ENTIRE LIFE.

gatau lagi. put udah gatau lagi. parah lah. untungnya belom dapet grip otoyo sama oku sama, jadi ga ngerasa berdosa-dosa amat ngenistain mereka begini.

udah pokoknya tinggal nulis yang belom pada jadi aja itu ya....

.
.

OMAKE (Obat seMbuh bAper berKEpanjangan)

“Apa-apaan nih?” Toyohisa berujar dengan nada tinggi. Tas kerjanya ditaruh begitu saja di lantai.


“Apaan sih yo lebay deh, Bunda kan emang dari dulu pengen anak cewek.” St. Germi tidak menghiraukan anaknya, dia masih sibuk mengusap-usap rambut Oku di rengkuhannya.

“Jadi bunda pilih aku apa Oku?”

“Oku lah, ngapain punya anak ga bisa bedain mana fuchsia mana cherry.”

“Dua-duanya pink, apa bedanyaa?”

Oku tertawa-tawa.

“Ini malah ketawa lagi.” Toyohisa menerjang dua orang itu, menggelitiki istrinya. Menuai tawa dan pertahanan dari wanita itu juga celotehan protes St. Germi.

“Yo, lo umur berapa sih…” Anastasia yang baru datang menghentikan semuanya.

“Apa hubungannya sama umur…”

“Ya lo umur berapa ga bisa bedain fuchsia sama cherry?” Anastasia dihadiahi peluk oleh St. Germi, mereka duduk berdesakan bersama Oku.

“Apaan, ini pasti konspirasi penindasan laki-laki, ya ga bang?”

Hijikata hanya menggeleng menahan tawa.

“Penindasan laki-laki itu apaan coba..” Anastasia berkomentar sambil mendorong Toyohisa jatuh dari sofa agar bisa duduk dengan lebih leluasa.

Komentar “Cewek kasar.” Dari Toyohisa menuai kekehan Oku yang dirangkul dengan gemas oleh Anastasia.

“Udah mas, makan dulu biar tenang.” Hijikata menyodorkan bungkusan plastik pada Toyohisa.

“Eh iya, udah pada makan belom?” Toyohisa menatap istrinya yang langsung bangkit.

“Tadi berdua Bunda nungguin kamu pulang dulu,” Oku beranjak berdiri dan melangkah ke ruang makan, “Aku siapin dulu, mandi gih.” Tambahnya pada Toyohisa yang mengangkat tudung saji di meja makan.

Toyohisa mencium istrinya singkat sebagai jawaban. Oku mengusap punggung suaminya penuh sayang.

“Nda, itu beneran?” tanya Anastasia yang mengintip dari balik sofa.

“Beneran.” St. Germi yang melihat adegan yang sama mengkonfirmasi.

“Berubah ya…” Hijikata ikut berkomentar pendek.

“Masa sih?”

“Ih dulu kan dia manja.”

“Keras kepala.”

Tambahan dari Hijikata ini diamini Anastasia, “Toyo yang dulu mana mau disuruh mandi pas laper?”

St. Germi mendengus tertawa, “Ya gapapalah kalau jadi lebih gagah, lebih baik. Terus kalian gimana? Apa kata dokter kandungannya?” tambah St. Germi.

Hijikata dan Anastasia saling pandang.

Belum sembuh juga? Silahkan pejam mata sambil dinina bobokan opa Rod Stewart.


With love,
Put.