Sakurazaka Ohime (sakurazakaohime) wrote,
Sakurazaka Ohime
sakurazakaohime

[fanfic] 幸

DRIFTERS. Cannon. 豊奥.

-------------------

Toyohisa memacu kudanya secepat yang dia bisa. Rasa kaget, syok dan tidak percaya membuatnya lari dan melompat begitu saja ke atas kudanya. Dia pun masih bertanya-tanya soal surat kilat yang dibacanya baru saja. Surat yang berisi pemberitahuan dari istrinya, tentang gugurnya janin mereka.

Demi kepraktisan saat akan maju perang, mereka tinggal di benteng yang berbeda. Alasan itu dulu terasa masuk akal. Tapi sekarang Toyohisa mengutuk diri karena ada rasa tidak sabar untuk bisa segera sampai ke tempat istrinya berada.

"Buka gerbang-!" Teriaknya bahkan saat baru ujung menara benteng yang terlihat.

Penjaga gerbang sempat kebingungan karena hanya mendengar suara Toyohisa dan derap kuda di kejauhan. Mereka tergopoh-gopoh membukakan gerbang saat mulai tampak sosok salah satu tuan mereka di atas kuda yang melaju cepat.

Turun, dan memberikan kudanya pada salah seorang di antara pasukan penjaga dan memberondongnya dengan pertanyaan, "Dimana istriku?"

Berpikir cepat, si prajurit menjawab, "Beliau ada di kamarnya sekarang..."

Mendengar nada aneh si prajurit, Toyohisa tahu ada yang tidak beres. Nyaris berlari dia menuju ruangan yang terlalu dikenalnya. Dia membuka pintu dan terhenti di depannya dalam engahan napas dan cucuran keringat perjalanan. Dilihatnya si istri duduk di pembaringan dengan kimono putih seolah tak ada yang terjadi.

"Selamat datang kembali, Tuan." Tuturnya lembut sambil tersenyum pada Toyohisa.

Tercenung, Toyohisa tidak melepaskan tatapannya saat melangkah masuk. Tidak mempedulikan para pembantu yang beringsut keluar dan menutup pintu.

"Kau tidak apa-apa?" Tanyanya cemas.

Tanpa melepas senyum, istrinya menjawab, "Saya tidak yakin bagaimana menjawab pertanyaan itu."

Toyohisa beranjak duduk, tahu kalimat itu belum selesai sampai di situ.

"Syukurlah Tuan cepat kemari, jadi semua bisa segera selesai. Saya sudah mempersiapkan semuanya."

"Persiapkan apa?"

Istrinya mengubah posisi, bersujud dalam dalam ke arah Toyohisa, "Tuanku, izinkan saya bertanggung jawab atas kegagalan ini."

"Kau mau mati?"

"Ya."

Jawaban tanpa keraguan sama sekali. Sekelebat Toyohisa merasakan bangga beristrikan dia dalam hati. Sekilas saja. Dia lalu memejamkan mata, memblokir penglihatan dari sosok istrinya yang bersujud padanya. Tangannya terkepal. Pikirannya berputar.

Di perjalanan tadi, dia sempat memikirkan kemungkinan ini. Tak ada keraguan untuk mengiyakan di benaknya tadi. Toh itu artinya istrinya berharga diri tinggi, berjiwa ksatria dan pemberani. Sempurna sekali.

Tapi

Melihat istrinya menyambutnya dengan tegar dan penuh senyum, membuat pendiriannya goyah. Ada ketidak relaan membiarkan wanita sekuat ini mati. Mungkin jika dia tiba kemari disambut istrinya tak berdaya di pembaringan, dia malah tak akan punya keraguan apa-apa jika dimintakan izin untuk mati.

"Bangkitlah," ujarnya memecah hening.

Uluran tangannya mengagetkan si istri yang baru saja mengangkat kepala, "E-Tu--"

"Toyohisa," Potongnya pelan saat istrinya sudah dalam rengkuhannya, "Itu namaku, hanya ada kita, maka panggillah aku begitu."

Gelombang keterkejutan menguasai wanita itu.

"Menangislah," Tambah Toyohisa sebelum si istri sempat bereaksi, "Tidak apa-apa, menangislah."

"Aku sudah lupa caranya." Jawabnya lirih, "Ingin menangis pun, aku sudah tidak bisa menangis..."

Tak bergeming, Toyohisa mengelus rambut hitam panjang istrinya dengan lembut.

"Kenapa, kau tidak membiarkan aku mati?" Pertanyaan itu hati-hati, menutupi ketidak sabaran.

"Aku tidak bisa membiarkanmu mati."

"Maka aku memintamu, berikanlah aku alasan untuk hidup."

Toyohisa terdiam.

"Kau pernah bercerita tentang cita-citamu," tambah si istri, berusaha persuasif, "Berperang bersama anakmu, membesarkan nama Shimadzu seperti yang ayah mertua lakukan. Cita-cita mulia yang kudukung sepenuh hati karena sudah tugasku pula mengemban nama Shimadzu."

Toyohisa mulai melihat ke mana arah pembicaraan ini.

"Tapi hal ini terjadi." Lanjut si istri memberi pembenaran dugaan Toyohisa, "Tuanku, Toyohisa, aku yang sudah tidak bisa mewujudkan impianmu dan tidak mungkin menunaikan tugas sebagai anggota keluarga Shimadzu tidak punya alasan lagi untuk tetap hidup. Aku meminta kebaikan hatimu, daripada hidup menanggung malu, lebih baik perintahkan aku untuk mati sekarang juga."

Jeda, Toyohisa menghela napas.

"Sepertinya memang itulah masalahnya," dia memulai, "Aku yang mengerti alasanmu tak punya hak memberimu alasan untuk hidup. Tapi, yang kutahu, aku tak akan membiarkanmu mati saat ini. Saat kau belum merasakan bahagia."

Napas si istri tertahan. Dia mencengkram kimono Toyohisa erat.

'Bahagia'

Suatu kata yang dia tahu tak akan ia dapati dalam garis kehidupan saat ini. Kata yang sudah dia kubur dalam dalam. Kata yang ternyata bisa meruntuhkan tembok di hatinya.

"Bahagia...?" Ulangnya pelan dengan getar suara yang dia tidak tahu masih bisa dia lakukan.

"Aa," Toyohisa memberi ruang di rengkuhannya agar bisa melihat wajah istrinya yang mulai dialiri air mata, "Walau aku mungkin tak bisa memberikannya, berbahagialah."

Mereka hidup pada zaman penuh darah, di mana kalimat perang lebih sering diucapkan daripada pernyataan cinta. Di mana cinta hanyalah sebuah kata semu yang kemudian jadi alat pertahanan dari serangan musuh dan berakhir tragis.

Keduanya tahu hal itu. Keduanya menerima kenyataan itu sungguh-sungguh. Pasrah adalah jalan satu-satunya bagi si istri saat mengetahui nasibnya sama saja seperti kebanyakan wanita yang dijadikan bidak politik keluarga. Ikhlas adalah apa yang Toyohisa rasakan saat harus mengikat tali pernikahan dengan wanita yang dia cintai saja tidak.

Toh menikahi wanita yang tidak dia cintai membuatnya bisa ikhlas mati di medan perang tanpa beban. Ada keegoisan semacam itu dalam dirinya saat itu.

Dia mungkin tidak mencintai wanita ini, tapi dia merasa ingin memberikan pelukan untuk wanita yang telah berjuang untuknya. Memeluknya, kemudian menyadari bahwa, dia juga butuh memeluk seseorang saat itu. Untuk menggelontorkan kekecewaan, dan kesedihan yang sebenarnya dia rasakan bercampur dari awal dia tahu dia kehilangan anaknya.

"Malam ini aku di sini. Bersamamu." Bisiknya pelan.

"...ya." Istrinya menjawab serak.

Kimono yang basah karena air mata, emosi yang tercampur, membuatnya menyadari dia harus mengikis egoismenya sedikit. Karena dia disadari bahwa, hidupnya sudah bukan miliknya saja sendiri.

Hidupnya, mempengaruhi hidup orang lain.
Tags: drifters, fanfic
Subscribe
  • Post a new comment

    Error

    Anonymous comments are disabled in this journal

    default userpic

    Your IP address will be recorded 

  • 0 comments