Sakurazaka Ohime (sakurazakaohime) wrote,
Sakurazaka Ohime
sakurazakaohime

  • Mood:

[ Fanfic ] Family, Matters

Warning: Drifters Warnet AU! ; Slight ToyoAn
-----
Class meeting, waktu untuk anak rajin menuruti guru membersihkan kelas dan merapikan dokumen. Waktu bebas untuk sisa yang lainnya. Waktu untuk tidur di pangkuan Anastasia bagi Toyohisa setelah semalaman tidak tidur menemani Bunda bicara ke sana kemari ditemani berbotol Sherry.

Bangku panjang tersedia di tiap depan kelas dan ruang praktek. Maka bangku panjang di ruang praktek Teknologi Informasi yang berada di belokan ujung lorong lantai teratas gedung adalah tempat dimana mereka berada. Ruang praktek itu tidak menjadi prioritas untuk 'diurus' selama Class Meeting, tak akan ada yang ke sana. Menjadi tempat sepi yang disenangi Anastasia untuk membaca buku sambil sesekali mengelus lembut rambut Toyohisa yang tertidur lelap.

Suasana nyaman sepi ditemani semilir angin karena duduk di balkon lantai 4 itu hanya sementara. Derap langkah beberapa orang memecah semuanya.

"Di sini lo ternyata." Seorang siswi berkata sambil memimpin temannya yang lain untuk menghampiri Anastasia.

"Ada apa ya?" Anastasia hanya melirik sekilas sebelum menjawab sambil menatap bukunya lagi.

"Jangan pura pura gatau!" Sahut yang lain dengan nada lebih tinggi.

Anastasia terganggu.

"Bisa tolong ngomongnya pelan-pelan aja gak?" Dia menutup bukunya mendongak menatap si pengucap.

Mereka agaknya senang mendapati akhirnya Anastasia memberikan perhatian.

"Jadi, ada urusan apa?" Tanya Anastasia lagi dengan nada datar yang sama.

"Soal Toyohisa..." Jawab si pemimpin lagi.

Anastasia berkedip sekali, "Yakin mau ngomong di sini, sekarang? Ada orangnya lho."

Mereka sempat saling lirik, "Gapapa, dianya kan tidur." Akhirnya si pemimpin memberanikan diri.

Anastasia menatap datar mereka semua. Menghela napas dalam hati. Memang hanya sedikit orang di dunia ini yang tahu kalau Toyohisa pasti sudah bangun dari awal tadi terdengar bunyi langkah. Mengubah posisinya menjadi miring dengan wajah menghadap perut Anastasia adalah pertanda dia tidak suka, malas, dengan keadaan ini.

"Yaudah, terserah aja..." Lanjut Anastasia akhirnya, "Emang dia kenapa?"

Seperti sudah menunggu kalimat itu mereka bergantian mulai menyerang Anastasia.

"Bukan langsung ke dianya, tapi elu!"

"Jadi lo tuh siapanya dia sih-??"

"Kalau emang bukan siapa-siapa, ga usah nempel dia terus dong!"

"Mentang-mentang deket sama Bundanya Toyo!"

Anastasia refleks menutupi telinga Toyohisa dengan tangannya saat 'Bunda' terucap. Dia tidak mau Toyohisa terseret karena emosi.

"Udah?" Jawabnya pendek saat mereka bersama sama menyetujui kalimat tentang Bunda.

Mereka terdiam karena ketenangan Anastasia menghadapi ini semua.

"Jadi, intinya kalian mau tau gue siapanya dia, dan kalau bisa jauhin dia? Kenapa emangnya, hm?" Anastasia memandang mereka satu per satu. Posisinya yang duduk tidak memberi kelemahan, diangkatnya dagu tinggi-tinggi dengan mata menajam.

"Ya... Harus jelas semuanya lah! Karena ada lo kita jadi ga bisa ngedeket..." si pemimpin berusaha melawan walau kepayahan.

Anastasia mendengus tertawa, "Jelas aja ga bisa. Karena gue ga ngijinin. A, aa- ssh-" Memberi kode agar tak dipotong, Anastasia melanjutkan, "Karena, dia keluarga gue, punya gue. Ga akan gue kasih ke siapapun yang bawa-bawa Bunda di belakang dia kayak gini. Mau berharap apa sama yang ngomongin orang paling disayang Otoyo di belakang?"

"-!" Skak.

"Eh, gue ga ngelarang kalian deketin dia ya. Silakan aja, tapi sorry, bisa deket bukan berarti dia bakal jadi punya lo." Memberi ultimatum Anastasia itu.

Dia menyapu wajah kesal setiap anak perempuan itu, "Jelas? Ada lagi yang mau ditanya?"

"Bitch." Dengan itu dan jari tengah terangkat, mereka beranjak pergi meninggalkan Anastasia dan Toyohisa kembali bercengkrama dengan sunyi.

"Emma..."

"Hmm?" Anastasia menunduk melihat Toyohisa yang membuka mata.

"You're not a bitch, you're mine."

Anastasia tertawa pelan, sepertinya menutup telinga dengan tangan tidak memblokir suara dengan efektif.

"Hn." Anastasia mengacak rambut Toyohisa sekilas sebelum kembali membuka novelnya.

Toyohisa kembali terlentang memperhatikan wajah Anastasia yang membalik-balik lembaran bukunya, "Sometimes I wonder..."

"Hm?"

"Why it doesn't work for us."

Gerakan Anastasia terhenti, "It's... just doesn't work..."

"Kenapa?"

Tatapan mereka bertemu.

"Karena..." Anastasia mengatupkan bibir rapat-rapat, "Gue sendiri ngerasa apa yang gue rasain itu bukan cinta..." melihat ekspresi Toyohisa, Anastasia buru-buru melanjutkan, "Maksudnya, gue sayang elu, tapi... Rasanya itu bukan sayang orang jatuh cinta. Gak ada deg-degannya, gak ada awkwardnya... Gini deh, kan lo sekarang punya pacar, coba lo inget-inget, pasti ada kan momen salting, mau bilang 'sayang' susah--"

Toyohisa tercenung sesaat ketika menyadari inti kalimat Anastasia, dia memotongnya sambil tertawa kecil kemudian, "Iya.. kayaknya gue ngerti maksudnya gimana..."

"Iya gitu...."

"Ah, ya tapi elonya aja ga sadar dulu gue beneran suka sama lo."

"Hah-?"

Toyohisa tertawa kecil, membuat kalimatnya tadi sulit dibedakan antara kelakar atau bukan. Dia mengulurkan tangan, membuat Anastasia merunduk. Diciumnya pipi anak perempuan itu sekilas.

"...Untung gue ga jadi sama lo, udah punya pacar masih cium cium cewe lain..."

"Kalau lo pacar gue, ngepain gue nyium cewe laen..." Toyohisa menyahuti sambil memejamkan mata, menyamankan posisi untuk kembali tertidur, tak menyadari wajah Anastasia yang entah kenapa bersemu merah muda.

Kepala Toyohisa penuh jawaban yang dia cari. Memang, mengucapkan 'sayang' pada Anastasia semudah mengucapkannya untuk Bunda. Memang, menunjukkan sisi lemahnya pada Anastasia semudah menunjukkannya pada Babeh. 'Keluarga' mungkin tidak buruk juga. Walau dia tahu, jauh di ujung, di pelosok lubuk hatinya, masih ada rasa tak akan menolak jika keadaan menjadikan Anastasia pengantinnya.

"Ya... Emang sih kalau diinget, gue belom pernah liat lo blushing ke gue kayak lo blushing ke Bang Hiji." Ujar Toyohisa tiba-tiba saat Anastasia mulai membaca lagi.

Kaget dan kesal, "Fuck you."

"No, you won't, liar."

Toyohisa terkekeh, Anastasia memukulnya ringan dengan novelnya.
Subscribe
  • Post a new comment

    Error

    Anonymous comments are disabled in this journal

    default userpic

    Your IP address will be recorded 

  • 0 comments