Sakurazaka Ohime (sakurazakaohime) wrote,
Sakurazaka Ohime
sakurazakaohime

  • Mood:
  • Music:

[ fanfic ] At The Beginning

A DRIFTERS Fanfiction
At The Beginning

.
Warning: Warnet!AU. ToyoHiji
.
.

"Pantes aja..." St. Germi mendengus di ambang pintu kamar Toyohisa.

"Kenapa Nda?" Toyohisa melepas headphonenya, sambil menoleh ke arah pintu.

"Kamu bunda panggilin ga nyaut-nyaut, taunya pake headset."

Toyohisa hanya terkekeh tanpa dosa. St. Germi memperhatikan hamparan buku dan kertas-kertas di meja belajar anak itu. Yah setidaknya dia sibuk mengerjakan tugas.

"Masih banyak gak?"

"Tinggal satu nomer lagi sih..."

"Yaudah, selesein, terus turun ya. Ada tamu."

Toyohisa mengerenyit, bingung. Tapi belum sempat dia bertanya siapa si Tamu, St. Germi sudah menutup pintu lagi. Akhirnya dia menurut saja, tugasnya selesai dan dia menuruni tangga menuju ruang tamu. Sempat terhenti gerakannya begitu melihat siapa tamunya.

Hijikata yang sedang tertawa kecil bersama St. Germi. Entah menertawakan apa.

"Udah selesai Nak?" St. Germi yang menyadari kedatangan Toyohisa.

"Iya..." Toyohisa menjawab sekenanya karena baru sadar dari keterpukauannya akan tawa Hijikata tadi.

"Duduk sini dulu, Bunda tambah minumnya." St. Germi beranjak berdiri, sambil membawa poci teh dia melangkah menuju dapur. Melewati Toyohisa, dia berbisik, "Kamu dengar dulu dia mau bilang apa, sabar, tahan diri, baru cari jalan keluarnya."

Kemudian St. Germi meninggalkan mereka sepenuhnya. Memberikan ruang dan waktu untuk dua orang yang sekarang terdiam karena tidak tahu harus mulai darimana.

Toyohisa mengenyakkan diri duduk di samping Hijikata. Di sofa panjang yang di dinding belakangnya tergantung foto keluarga.

Toyohisa menghela napas, bersandar, dan bertanya, "Ada apa?" Agak menoleh dia menatap wajah Hijikata yang berusaha menatapnya balik.

"Saya mau minta maaf Mas."

Toyohisa tidak melepaskan tatapan matanya. Meneliti tiap senti wajah lelaki itu, termasuk dahinya yang masih membiru.

"Saya butuh waktu turunkan emosi dan kendalikan diri pas liat apa yang Mas lakukan sama mba Anya..."

Sampai sini Toyohisa menegakkan duduknya, memberi gestur dia mendengarkan sepenuhnya.

Hijikata agak menunduk melanjutkan, "Mas tanya saya percaya sama mas atau tidak, pasti saya percaya. Tapi masalahnya bukan itu, saya punya permasalahan dengan diri saya sendiri. Ditambah saya kalut pas tau hubungan kalian gimana..." Hijikata memijat kening dengan sebelah tangan, agak menutupi wajahnya, "Mungkin mas benar, masa lalu kita masing-masing tidak ada hubungannya. Tapi saya juga punya perasaan untuk ingin ada di masa lalu, sekarang, dan mungkin masa depan Mas Toyo."

Kalau keadaannya tidak sedang begini, Toyohisa mungkin sudah tersipu karena senang dan malu. Tapi pemikiran untuk membantah itu semua lebih berkecamuk.

Pemikirannya yang berkata kalau setelah diberi waktu pun Hijikata tetap tidak mengerti maksud Toyohisa mengenai 'kenapa jangan ungkit-ungkit masa lalu'. Ingin dia ungkapkan itu semua langsung dan jelas, namun tertahan nasehat Bundanya.

Dia memejamkan mata dan menghela napas panjang sebelum memulai.

"Bang, kalau kita ketahan masa lalu, kita ga akan pernah maju. Yang ada nanti sakit hati dan timbul masalah. Kayak sekarang. Makanya aku ga mau ungkit-ungkit kalau ga perlu."

Hijikata menoleh menatap Toyohisa, sedikit tersenyum, "Mas, orang belajar sejarah supaya bisa belajar dari masa lalu. Supaya ga ngulang kesalahan yang sama."

Toyohisa terdiam sejenak. Sudah lama dia tidak mengendalikan, menahan diri sekuat ini. Dan efeknya panjang sekali. Di saat berusaha menahan diri ini, dia berusaha mencari maksud baik dari kata-kata Hijikata. Dia berusaha sabar karena dia pun tak ingin ini berakhir semakin buruk. Dan akhirnya dia teringat kenangan dulu. Dimana dia membuat Anastasia menangis karena ketidakpekaan dan keegoisannya. Dia kembali ingat bahwa hubungan dilakukan dua orang, dia tidak harus memaksa dan dipaksa melakukan sesuatu di dalamnya.

Diamnya Toyohisa memancing penasaran Hijikata.

"Mas?"

Hijikata berhasil menarik Toyohisa dari pemikirannya. Dia tersenyum, menyadari nyaris saja dia melakukan kesalahan yang sama sekali lagi.

"Iya... Abang bener." Toyohisa menoleh, menatap Hijikata lurus-lurus, "Maafin aku ya. Aku masih anak-anak, masih suka langsung emosi..." Toyohisa mengakhirinya dengan cengiran khasnya.

Hijikata tadinya berpikir akan adu mulut saat menyelesaikan hal ini, tapi semua pikiran berat, sedih dan kesalnya menguap begitu saja oleh senyum lebar Toyohisa.

Dia rela dijedukkan sekali lagi, menambah memar lagi, kalau setelahnya dia bisa lihat senyum itu lagi.

"Yah tapi... Aku bukannya ga mau cerita soal Emma..." Kalimat Toyohisa menyadarkan Hijikata dari lamunannya akan Toyohisa, memar, dan lenguhan.

"Maksud mas gimana?" Berusaha kembali fokus, Hijikata itu.

"Ga mungkin aku ga cerita soal dia, tapi kupikir ga bakal sekarang-sekarang ceritanya... Aku masih mikir gimana ceritanya supaya Abang nangkep maksudku..."

"Jadi?"

"Jadi ya sekarang aku cerita aja kayaknya... Abang mau mulai darimana?"

"Dari yang mas nyaman ceritainnya."

Toyohisa tertawa tanpa suara sebelum mulai bercerita, tentang dia, anastasia, dan hubungan mereka.

Berceritalah dia tentang Anastasia yang sudah dijodohkan dengannya dari umur lima tahun. Mereka menolak dengan tegas tentu saja. Namun dorongan orang tua membuat mereka setuju akhirnya saat menginjak sekolah menengah pertama. Menuju kelulusan, dalam hubungan nyaris resmi, mereka melewati batas. Membuat Anastasia kesulitan membatalkan hubungan itu begitu saja. Tapi dengan susah payah Toyohisa membatalkan semuanya. Sampai sekarang, sampai sudah tak mungkin untuk mereka menjauh begitu saja. Mereka sudah seperti keluarga tanpa ikatan darah.

"Aku ga minta abang supaya maklum," Toyohisa menambahkan lagi, "Tapi aku emang udah deket banget sama dia, bukannya aku ga bisa jauh dari dia. Tapi aku ga mau. Sebelum aku liat dia sama laki-laki yang bener dan tanggung jawab, aku akan selalu ada buat dia."

Toyohisa berhenti. Memberi jeda agar Hijikata bisa bereaksi.

Hijikata merasakan dirinya dalam pusaran pemikiran. Negatif dan positif bertarung di dirinya. Tapi dia berusaha mengendalikan diri.

"Jadi... kalian, apa itu namanya... 'sodara ketemu gede'...?"

Toyohisa tercenung sebentar, menimbang, "Yah... bisa juga dibilang gitu..."

Hijikata terdiam sebentar, "Terus, mba Anya rumus listrik statis, dan saya integral limit nol?"

Toyohisa terdiam. Menatap terkejut Hijikata. Dia tidak menyangka lelaki di sampingnya masih mengingat hal itu.

Panik itu sesaat saja. Toyohisa menjawab pertanyaan itu hanya dengan tatapan mata. Dia tidak mau ucapannya membuka masalah lama dan menghancurkan citra Anastasia.

Hijikata mendengus, terkekeh pelan. Perasaannya campur aduk. Sulit menerima ini semua begitu saja. Tapi ada kelegaan saat Toyohisa mau membuka semuanya.

"Terima kasih ya mas." Akhirnya hanya begitu saja yang bisa dia katakan sambil tersenyum pada Toyohisa.

"...Terima kasih buat apa...?"

"Ceritain semuanya. Saya tau pasti susah buat mas cerita semua itu."

Toyohisa terdiam sebentar, mengambil dan menggenggam tangan Hijikata, "Masa lalu itu ada untuk dijadiin pijakan supaya kita maju. Mas yang ingetin aku soal itu." Tersenyum dia setelah mencium genggaman tangan mereka.

Hijikata tersenyum tipis.

Ah, kenapa lelakinya hari ini tersenyum terus? Dia daritadi susah payah menahan diri dalam segala aspek, tahu.

"Yak, stop sampai di situ." Suara St. Germi yang menghentikan Toyohisa satu senti dari bibir Hijikata.

"Bunda..." Toyohisa menoleh. Hijikata buru-buru menarik tangannya dari genggaman Toyohisa.

"Jadi," St. Germi memulai sambil menaruh nampan berisi teko teh mengepul dan sepiring camilan, "Sudah beres semuanya?"

Hijikata terdiam karena bingung kenapa St. Germi bisa tahu. Dia mengambil kesimpulan mungkin Toyohisa yang cerita padanya, tapi lalu dia harus bereaksi apa?

Toyohisa terdiam karena syok bundanya membuka kartu begitu saja.

"Dia sampe nangis nangis lho, Ji."

"-! Hah?? Aku ga nangis!" Toyohisa panik mendadak.

"Ngoceh sok emo.."

"-! Bunda-!"

"Bunda kutip ya, 'aku tuh ngerasa ga diperca--'" ucapan St. Germi terpotong karena Toyohisa menutup mulutnya dengan tangan.

"Bunda, please deh nda!" Toyohisa panik sendiri, St. Germi menahan tawa geli.

Sedangkan Hijikata terkekeh sendiri. Membuat ibu dan anak itu terdiam saling lirik.

Sadar, Hijikata berusaha mengendalikan diri, "Maaf, sebelum ini saya pikir saya jalan sendiri di hubungan ini... Tapi sepertinya saya salah sangka." Senyum lebar yang jarang-jarang, terpulas di wajah Hijikata.

Toyohisa mengatupkan mulutnya rapat-rapat, menahan diri.

Sialan, dia ingin sekali melumat senyum itu tak bersisa. Tapi tak mungkin di sini, tak bisa saat ini.

St. Germi hanya bisa mendengus melihat ekspresi anaknya yang melepaskannya.

"Halah, sok. Kemaren itu kan yang langsung emosi liat aku dansa sama Emma itu abang."

Diserang mendadak, Hijikata berkedip bingung, "Apa...?"

Toyohisa mendengus, berdiri mengulurkan tangan, "Come, dance with me. Take some revenge."

Hijikata terdiam menahan napas. Dia memang sempat berpikir begitu. Dia menghitung, membandingkan apa yang Anastasia bisa lakukan dengan Toyohisa tapi dia tidak bisa lakukan. Tapi kenapa di saat dia sedang berusaha mengikhlaskan itu semua, Toyohisa mampu membaca keinginannya?

"Saya ga bisa mas..." Ucapnya ragu ragu.

"Gapapa," Toyohisa mengambil tangan Hijikata, berusaha membuatnya berdiri, "Hari ini, aku yang ngajarin abang." Toyohisa menyeringai.

Ujung bibir Hijikata tertarik, kalah dia. "Aa..." Jawabnya pendek seraya berdiri, menggengam tangan Toyohisa.

St. Germi tersenyum sekilas melirik mereka, "Mulai dari mana Nak?" Tanyanya sambil membenarkan posisi di kursi piano ruang tamu.

"Journey..." Toyohisa memandang lurus mata Hijikata lekat-lekat, "...To The Past."


.
.
Disclaimer: DRIFTERS belongs to Hirano Kouta
.
.


"Come, dance with me. Take some revenge."

Tags: anime, drifters, fanfic, head cannon
Subscribe
  • Post a new comment

    Error

    Anonymous comments are disabled in this journal

    default userpic

    Your IP address will be recorded 

  • 0 comments