?

Log in

No account? Create an account

Previous Entry | Next Entry

Dibuat dalam rangka meramaikan Malam Narasi OneWeekOnePaper. Dengan tema: Orion.
.
.
.
-------------------------------------------------------------------------------

Jepang, tahun 15xx.

Angin berhembus mengacak rambut saat Yu mendongak menatap ke langit malam yang penuh bintang.

“Kau lihat itu tidak Oyu?” Suaminya menunjuk ke arah deretan bintang.

Setelah menyipitkan mata, Yu melihat apa yang dimaksud Toyohisa, “Ah, Orion…”

“Eh? Bukan Orihime dan Hikoboshi?” Toyohisa menolehkan kepala ke arah Yu yang duduk di pelataran samping rumah.

“Setahuku Orihime dan Hikoboshi itu Vega dan Altair…?” Yu menjawab ragu-ragu.

Ada jeda sejenak untuk Toyohisa menatap wanita itu sebelum berkata, “Apa… Kau membaca buku-buku aneh itu lagi?”

Seperti tertangkap basah, Yu tertawa kaku, “Ya, hanya sesekali…” Dan mengalihkan pandangan dari tatapan suaminya yang seperti menembus tubuhnya.

Toyohisa mendengus, “Yah, asal jangan sampai kau ketularan pikiran-pikiran aneh orang-orang barat itu…”

Yu menjawab sambil menatap sosok Toyohisa yang kembali melihat ke atas, “Tentu saja, aku membaca buku-buku itu hanya karena penasaran,” Mengatupkan bibir rapat-rapat, dia ragu untuk melanjutkan walau diucapkan juga, “Dan untuk menghabiskan waktu menunggumu pulang.”

“Kalau kau punya waktu sebanyak itu, bagaimana kalau jahitkan satu zirah lagi untukku? Yang kau buatkan dulu itu sudah penuh goresan.” Ada kekehan pelan di awal Toyohisa mengucapkan kalimatnya, dan senyum lebar masih bertahan ketika dia menoleh ke arah Yu di akhir kalimat.

Yu tersenyum, “Aku sudah melakukannya. Jadi besok saat akan berangkat bisa langsung kau pakai.”

“Serius? Bagus sekali kalau begitu.” Toyohisa ikut duduk dengan wajah senang.

“Nanti saat kau pulang, mungkin aku sudah membuatkanmu beberapa lagi.” Yu melanjutkan saat suaminya meneguk teh, meliriknya.

“Tidak akan selama itu. Kau tahu, sebelum kau sadari, kita sudah kembali duduk bersama lagi di sini setelah menyandarkan bambu tanabata berikutnya. Melihat bintang bersama-sama.”

Yu tercenung sesaat. Berpikir apakah suaminya berkata sungguh-sungguh atau malah sekedar membuatnya senang. Tapi yang manapun itu tetap membuatnya  tersenyum, “Ya. Tentu saja.”

Tapi Toyohisa kembali hanya dalam rangkaian kata maaf dari sang paman yang seorang jenderal, “Yu, maafkan aku. Tak ada jalan lain, Toyohisa menghadang pasukan Naomasa yang mengejar sisa pasukan kita di Sekigahara…”

Yu merasa telinganya berdenging. Memori berputar di kepalanya, menampilkan suara, dan tawa Toyohisa. Tangannya mencengkram ujung kimononya kuat-kuat, “Terima kasih kau telah memberitahuku paman. Kalau memang dia tidak kembali, aku bangga menjadi istri ksatria yang gagah berani.”

Dia tidak menangis. Tidak sampai kembali ke kamar yang sekarang terasa terlalu luas dan memeluk zirah penuh goresan yang dulu dipakai Toyohisa sebagai peredam suara tangisnya.

Fisik yang memang digerogoti penyakit dan tekanan batin yang kuat menjadi alasan bagus Yu terbaring di kasur kemudian. Hari menjadi minggu, lalu menjadi bulan.

Dari pembaringannya, dia melihat keluar. Ke arah langit gelap penuh bintang. Penuh dengan pemikirannya sendiri.

“Apakah kau sudah di sana? Naik bersama para leluhur di antara bintang?” Hanya khayalan atau sungguhan, Yu tak mengerti. Dia melihat Toyohisa tersenyum padanya, “Ya, kita akan melihat bintang itu lagi, Orion. Bersama-sama. Walaupun menghabiskan waktu sampai kapanpun, dimana pun, dalam bentuk bagaimanapun.”

***

Jepang, tahun 20xx

“Oke, anak kelas satu, perkenalkan diri masing-masing. Mulai dari ujung.”

Tidak percaya diri karena logat daerahnya yang masih kental, Yu berdiri ragu-ragu, “Sa-saya, Yu Tadanaga, kelas 1-a. Saya bergabung dengan klub astronomi karena menyukai benda langit, khususnya bintang, err.. khususnya sabuk Orion.”

Bibirnya baru menutup, tapi tubuhnya tersentak kaget karena suara seorang anak lelaki, yang menyela, “Heh?” Membuat seluruh ruangan tertuju padanya.

“Kamu. Kenapa menyela dia bicara? Siapa namamu?”

Dengan percaya diri anak itu berdiri, “Namaku Shimazu, Shimazu Toyohisa. Kelas 1-b. Aku tidak menyelanya, hanya bereaksi karena apa yang dia ucapkan adalah apa yang aku juga akan katakan.”

Yu terperangah, menatap anak lelaki yang berdiri di sebelahnya. Selain logat daerahnya yang sama kentalnya dengan Yui, ada perasaan rindu yang aneh, yang membuatnya tidak bisa berpaling. Dia baru bertemu anak ini, tapi kenapa ada dorongan untuk memeluknya kuat-kuat?

“Oi, kau dengar aku tidak?”

Perkataan yang menyentak itu membangunkan Yu, “I-iya…?”

“Kutanya, apa kau setuju denganku?” Melihat gelagat Yu yang tidak mengerti, Toyohisa melanjutkan, “Kita akan pergi, membuat stasiun luar angkasa agar bisa melihat bintang-bintang, Orion dari dekat!”

Terhempas oleh ide gila semacam itu, Yu hanya bisa mengangguk takzim.

“Lebih dari itu,” Suara kecil Yu yang sudah bisa menguasai diri menengahi riuh tawa Toyohisa dan perkataan kakak kelas yang berusaha mengontrol keadaan, “Kenapa tidak sekalian membuat pernikahan di hadapan semesta. Di hadapan bintang-bintang… Di hadapan Orion?”

Yu menatap Toyohisa dengan wajah semerah tomat, bertanya apakah dirinya sudah gila mengatakan hal semacam itu.

Toyohisa terbahak, “Hebat, hebat! Kita baru bertemu, tapi, kau mau jadi pengantinku?”

“EH?”