?

Log in

No account? Create an account

Previous Entry | Next Entry

[fanfic] Red Stilleto and Facial Hair

Toyohisa ingat sekali malam itu.

Bunda mengenakan high heels merah terang kesukaannya. Memandang lurus ke jenggot halus yang mulai tumbuh di wajah ayah barunya. Dia ingat kagum pada bunda yang tak gentar sama sekali di hadapan karisma si lelaki perlente yang tengah menjadi partner dansanya--hanya karena dia benci lihat ada jenggot di wajah arogan lelaki itu.

Toyohisa ingat tersenyum tipis memperhatikan mereka sebelum menoleh ke arah jendela. Memandangi suasana malam di luar restoran.

Pikirannya melayang jauh. Dia bersyukur memiliki kedua orang tua seperti mereka apa adanya. Dia sadar tidak semua orang sama. Ada yang memiliki dua orang tua sedarah, satu, atau tak sedarah sama sekali seperti dia. Dan dia sama sekali tak pernah memikirkannya, dia tak peduli.

Pikirannya membawanya pada sosok Papa yang dulu mendampingi Bunda. Toyohisa masih terlalu kecil untuk ingat jelas bagaimana rupa lelaki itu. Tapi tak selintas pun ada kenangan buruk.

Toyohisa merasa senang Bunda tak lagi sendirian. Tapi dia terlanjur sudah berteman dengan sepi. Dia kesulitan menerima lelaki itu masuk sepenuhnya di kehidupannya. Dia terlanjur merasa di dunia ini hanya tinggal dia dan Bunda.

Lelaki itu hanya pendamping Bunda. Dan dia akan menerimanya dengan lapang hati. Sesederhana itu.

Demi Bundanya yang baik hati walaupun seperti bertanduk saat marah. Demi Bundanya yang mengusap punggungnya saat kesulitan tidur karena badai.

Demi Bunda yang langsung membuat kepalanya kosong karena amarah saat mendapat surat ancaman dengan foto Bunda di dalamnya.

Baru seminggu setelah kejadian dia tertangkap polisi, geng musuh melancarkan aksi balas dendam. Menculik Bunda dengan bantuan preman pasar. Jelas, siswa sekolah menengah tak akan mampu berbuat begitu.

Toyohisa ingat dia lompat dari kursi dan berlari. Menghiraukan teriak cemas Ayahnya. Pulang dia untuk mengambil mistar besi tajamnya dan sepucuk handgun. Pemberian Papa padanya dulu.
'Jaga Bundamu.' Kata lelaki itu saat memberikan senjata itu.
Toyohisa akan menepatinya sekarang.

Sudah tak terpikir apapun, begitu dia sadar pintu gudang ikan sudah tertendang olehnya. Dia melangkah masuk, mendapati Bunda terikat di kursi, segerombolan preman mengitarinya.

"Lepasin Nyokap gue!" Sekarang seluruh perhatian tertuju padanya. Termasuk Bunda yang wajahnya membiru di beberapa bagian.
"Tolol, yang namanya nyokap tuh cewek! Bukan banci!"
"Udah masuk ga salam eh taunya tolol!"

Mereka tertawa. Toyohisa muak.

"Banci itu yang ga berani maju langsung, tapi ngambil sandera. Kayak lo lo pada, Bangsat!" Toyohisa mengakhiri kalimatnya dengan melempari yang mengatai Bunda dengan gir. Sengaja dibuat meleset, sehingga menancap di kotak kayu di belakang si preman. Setelah menyerempet pipinya hingga tergores.

Amarah mereka terpancing, perkelahian tak bisa dihindari. Toyohisa melawan belasan orang sendirian. Bersenjatakan mistar tajam dan tinjunya. Dia tidak mau buang-buang peluru kalau belum perlu.

Teriakan cemas Bunda yang memanggil namanya bercampur dengan sumpah serapah di telinganya yang berdenging karena tertendang.
Kemudian dia mendengar sirene polisi, dan peringatan dari toa. Sebelum kemudian beberapa anggota polisi menyeruak masuk, meringkus mereka yang tadinya fokus menyerang Toyohisa.

Saat mencari tahu apa yang terjadi, dia mendapati Nobunaga sedang ikut berlari masuk bersama polisi. Lelaki itu berlari menuju Bunda, kemudian melepaskan ikatannya. Toyohisa bergegas mengikutinya.

Belum sempat Toyohisa berkata apapun, Bunda memeluknya.
Melepaskan mistar dari tangannya, Toyohisa balas memeluk Bunda erat-erat.
"Bunda maaf, Toyo berantem lagi..."
"Ya nak..."
Toyohisa memejamkan mata mempererat pelukannya, "Toyo sayang Bunda, gimana pun... Kita tinggal berdua Bunda. Aku cuma punya Bunda..."
Bunda hanya mengusap punggung remaja itu lembut, "Ya nak, iya..."

Polisi mengurus semuanya. Handgun Toyohisa tak sempat terpakai, polisi tidak mengkhawatirkan itu. Setelah mendapat perawatan, Toyohisa ingat dia pulang sambil merangkul Bundanya erat-erat. Jika rambutnya tidak diacak oleh si lelaki, dia tak akan sadar Ayahnya ada di situ.
"Beh, makasih.. Udah bantuin..." entah kenapa Toyohisa tidak bisa memandang wajah Nobunaga saat itu.
"Makanya lain kali dengerin dulu orang tua ngomong." Kalimat omelan.

Tapi Toyohisa tahu, wajah lelaki itu bangga padanya. Toyohisa hanya bisa menampakkan deretan giginya.
Mereka melangkah pulang, memberikan aksen hitam panjang di jalanan sore hari.

Mungkin memang harus begini. Kalau Toyohisa hidup seperti mereka kebanyakan, dia tak akan terbentuk menjadi seperti ini.
Di usianya saat itu, Toyohisa bisa mensyukuri hidupnya yang berbeda.
.
.
----------===---------
.
.
"Yo! Bangun! Abis subuh jangan tidur lagi..."
"Hmm...?"
"Tuh Yoichi di depan ngajak lari pagi!"
"-??"
"....kamu kenapa? Kok bengong? Abis mimpi ya?"
"Iya..."
"Mimpi apa?"
"Waktu Bunda diculik."
"...Udah, cuci muka sana."
Toyohisa mengangguk pelan, bangkit dari kasur. Namun terhenti di ambang pintu untuk menoleh kembali.
"Bunda..."
"Ya?"
"Toyohisa bersyukur punya Bunda."
"Ya Nak, Bunda juga."
.
.
.
Selain memfollow acc artist r18 pixiv, hasil tidak bisa tidur sampai jam 3 pagi adalah racauan seperti ini. I'm proud with myself.