?

Log in

No account? Create an account

Previous Entry | Next Entry

Because We Spamming Each Other

GenosXKaori buat @kiiterra byte

____

Semburat oranye mulai mewarnai langit. Genos yang melihat itu sambil membawa kantung kertas penuh belanjaan tidak berpikir apapun kecuali fakta kalau dia terlalu lama menentukan harus membeli daging atau ayam untuk makan malam sang guru. Kaki cyborg yang terbungkus celana jins itu sudah akan berbelok ke kompleks apartemennya saat matanya menangkap sosok seorang perempuan yang akan terjatuh saat sedang membawa kotak kardus besar. Instingnya sebagai seorang Hero, dan refleksnya sebagai petarung membuatnya bergerak cepat menahan si perempuan. Tepat sebelum dia terjatuh.

Dengan tangan melingkar di pinggang si perempuan, Genos bertanya, "Anda baik baik saja?"

Posisinya yang memeluk pinggul ramping perempuan itu dari belakang membuatnya tidak menyadari siapa si perempuan.

Saat perempuan itu berusaha menegakkan diri sambil menoleh dan berkata, "Aku tidak apa-apa, terima ka--.."

Keduanya terdiam dengan pupil mata masing-masing melebar terkejut.

"Genos -kun..?"
"Kaori..."

Tapi momen itu tidak lama. Diputuskan oleh petugas jasa pindahan yang berkata, "Nona, semuanya sudah kami taruh di apartemen anda."

Terdesak oleh keharusan menjawab kalimat itu, Kaori cepat cepat menegakkan tubuh. Dengan kardus masih di tangan, "Ah, ya terima kasih banyak paman. Sebentar, aku punya sesuatu.. erm.." Gadis itu menoleh ke kanan kiri, mencari tempat untuk sejenak menaruh kardusnya.

Genos yang membaca itu dengan sekali lihat, mengambil kardus berat dari tangan Kaori dengan sebelah tangan yang bebas dari membawa belanjaan, "Biar aku saja."

"Ah, Terima kasih.." Kaori tersenyum tipis sekilas. Anak perempuan itu memberikan amplop putih pada si lelaki yang kemudian pergi dengan truk besar.

Menyisakan kepulan asap knalpot tipis dan dua orang yang berdiri canggung.

"Genos-kun, maaf merepotkan, terima kasih.." Kaori berinisiatif, mengambil kembali kardus dari tangan

Genos yang sepertinya masih belum bisa berkata-kata.

"Aku permisi.." Kaori menunduk sekilas, beranjak berbalik pergi.

Genos yang tidak bisa menemukan kata yang tepat untuk menahan gadis itu. Hanya bisa terdiam. Dan akhirnya kembali berbalik pergi ke kediamannya.

----
"Jadi yang pindahan kesini itu mantanmu yang dulu itu?" Saitama bertanya di sela kunyahan, setelah mendengar 'penjelasan sepanjang lima kalimat dalam waktu 20 detik' dari Genos.

"Dia bukan mantanku, Sensei.."

"Ya.. Friendzone-mu kalau begitu."

Kalimat Saitama mungkin terdengar santai, tapi itu membuat hardisk, data ingatannya memutar ulang kejadian yang dulu. Dimana Genos tidak sempat email Kaori yang memintanya menemuinya. Email itu masuk ke folder spam. Genos tak pernah membacanya, sampai keesokannya dia tahu Kaori pindah dari kota itu.

Yang Ia tahu, Kaori menunggunya. Itu pasti.

"---!" Merasa kemungkinannya ada, pemuda itu langsung mengambil ponselnya, mengecek folder spam.

Tak ada apapun disana kecuali memang email spam.

Genos termangu.

Tak mungkin perempuan yang sudah dia buat menunggu itu akan mengabarinya kalau akan kembali kan?

Tidak, itu tidak mungkin.

Mungkin, melihat wajahnya itu tadi saja Kaori tidak mau.

Genos merasa ada yang ngilu di tubuh cyborgnya.

-----
"Ah.." Kaori terhenti ketika mendapati Genos di depan pintu apartemennya.

"Permisi, kulihat kemarin kau baru pindah kemari, jadi... Aku membawakan ini sebagai tanda perkenalan.." Genos menyodorkan kotak teh ke arah Kaori. Wajahnya berusaha di datar datarkan.

Ekspresi Kaori berubah ubah, dari terkejut, menatap lurus Genos, dan sekarang dia tersenyum tipis.

"Aku baru saja akan mengunjungi tetanggaku satu per satu. Silakan masuk, sepertinya teh yang kau bawa enak, biar kubuatkan."

Kaori mendahului Genos kembali masuk. Dengan wajah seperempatnya terkejut, pemuda cyborg itu sekarang duduk di atas bantal duduk ruang televisi yang masih dihimpit beberapa kardus.

Kaori meliriknya sekilas dari ujung mata, berbasa basi, "Gomen ne, aku belum sempat membereskan semuanya."

"Tidak, aku sama sekali tidak--.."

Tawa renyah Kaori yang  membawa gelas teh menghentikan kalimatnya, "Silakan.."

Kemudian ada uang teh mengepul di depan wajahnya beserta Kaori duduk di hadapannya.

Lagi, Kaori yang memecahkan hening itu, "Ohisashiburi, Genos -kun."

"Aa, sudah lama, memang, tiga tahun..?" Genos merasa sistem tata bahasanya tiba tiba terkena glitch.

"Sou ne, tiga tahun, lama juga, bagaimana keadaanmu sekarang? Sepertinya tampilanmu agak berbeda.." Kaori menunjuk ke arah kepalanya sendiri, sambil menatap potongan rambut Genos.

"Benar, Profesor memberiku-- Ah, sebenarnya, aku kemari.." Terhenti di tengah jalan kalimatnya itu karena wajah Kaori yang terlampau dekat harus segera dihentikan.

"Ya..?" Kepala anak itu sedikit miring, menggerakkan rambut kecoklatannya yang lembut.

Bertahanlah, Genos.

"Aku ingin memberitahumu, kalau emailmu masuk ke folder spam." Dia menyodorkan ponselnya yang di layarnya terpampang email tiga tahun yang lalu di dalam folder spam.

Saat Kaori mengambil dan menatap alat komunikasi itu. Genos membungkuk hingga kepalanya agak menempel kemeja, "Maafkan aku."

"Sungguh, aku minta maaf. Jika aku mengetahuinya, aku pasti akan datang. Pasti. Karena itu.. Kali ini--"

Tepukan lembut di pundaknya membuat Genos mengangkat kepala, melihat senyum lembut Kaori.

"Mou, ii yo.." Mulai gadis itu. Membuat Genos kembali menegakkan duduknya.

"Tiga tahun, dan waktu sudah mulai menutup lukaku, sebaiknya kita biarkan saja seperti itu," Senyum tipis Kaori kembali sambil dia melirik sekilas ponsel Genos, "Lagipula, waktu itu kupikir, mungkin itu keputusanmu untuk lebih baik tidak mengucapkan se--"

"Aku tidak pernah bermaksud begitu." Wajah Genos lurus, menatap Kaori sungguh sungguh.

Membuat Kaori termangu sesaat.

"Sou ne... Sou da yo ne.." Kaori mengalihkan pandangannya kembali ke ponsel, "Genos -kun wa yasashii dakara.. "

Suaranya perlahan tertelan hilang, tapi Genos masih bisa mendengar bisikan bercampur isakan itu, "Dia tidak mungkin membiarkanku menunggu kan.."

Hati Genos mencelos. Wajah yang sekarang menunduk tertutup rambut di depannya itu jelas mengeluarkan isak.

"Aku berdiri disitu.. Terus.. dan selalu menoleh ke arah kedatanganmu.. selalu.."

Genos menarik gadis itu kepelukannya. Kepala Kaori sekarang berada di dadanya, diusap lembut oleh tangannya yang dingin.

"Maafkan aku... Sekarang aku disini bersamamu."

Jeda diisi oleh cegukan kecil dan tangan Kaori yang melingkari tubuh Genos.

"Okaeri, Kaori.."

Kaori meremas jacket si pemuda, tersenyum,

"Un.. Tadaima.."

---

Napasnya menderu berbarengan bunyi alarm. Genos mendapati langit langit kamarnya dan punggung tangannya yang seolah ingin menggapai lampu di atas sana. Bersamaan dengan napasnya yang kembali tenang, dia berbisik,

"Mimpi..."

Tapi bagaimana bisa seorang cyborg sepertinya bisa bermimpi? Apa karena otaknya masih tersisa?

Karena memorinya masih ada?

Genos mematikan alarm di ponselnya. Alam bawah sadar membuatnya membuka kotak spam emailnya.Berharap mungkin ada email yang masuk kesana karena kesalahan.

Beberapa saat, ia tertidur kembali sambil menggenggam ponselnya.

Wallpaper bergambar makam bernamakan Kaori membuatnya kembali bermimpi tentang sebuah sore hari...

Tags: