?

Log in

No account? Create an account

Previous Entry | Next Entry

Nak

Markas yang biasanya hanya dipenuhi langkah kaki dan sapaan lemas para prajurit yang baru bangun, kini ketambahan derap. Derap langkah Sang Ketua. Panik dia begitu membuka emailnya pagi-pagi. Dia ingin klarifikasi, dia tahu siapa yang dia cari. Sayangnya tadi dia datangi kamarnya dan orang itu juga tidak ada. Namun, seperti ditemani Dewi Fortuna, dia melihatnya begitu sampai di ambang pintu depan.

"Toshi!" Teriaknya pada Sang Wakil Ketua yang melepas sepatu saja belum.

Kalau sedang tidak kalap, dia pasti bisa melihat wajah kaget memucatnya.

Refleks mundur dari tempatnya, Hijikata tidak berusaha menutupi ekspresinya, "Kondou-san..."

Oh Kondou tak sulit sama sekali membaca Hijikata secara keseluruhan. Pernah membaca buku? Kira-kira seperti itu.

"Toshi... Sougo mengirimiku email... Dia sakit, pergi. Kau tahu ada apa ini?"

Menekan, nada Kondou itu. Sama seperti saat kita sudah bisa menebak sebuah jalan cerita, dan ragu-ragu membuka halaman berikutnya. Karena cerita itu menyedihkan, dan kita berharap terkaan kita salah. Kira-kira seperti itu perasaannya.

Sayangnya gerak gerik Hijikata membenarkan terkaan Kondou. Si Wakil Ketua mengepalkan tangan dan menunduk perlahan. Bibirnya yang tanpa batang rokok itu tergigit membuatnya tak berkata apa-apa.

Itu saja cukup.

Cukup untuk Kondou melayangkan bogem mentahnya telak di wajah Hijikata. Membuat rak sepatu jatuh berantakan. Suaranya memancing para prajurit berdatangan. Hanya untuk mendapati 'Ayah' mereka menekan 'Ibu' di dinding dengan cengkraman kuat di kerah.

Rasa tercekik itu membuat Hijikata hanya melenguh pelan, "Ugh..."

Tapi tetap tak berkata apapun dia saat Kondou berkata, "Kenapa tidak memberitahuku?! Kau anggap aku orang luar?! Kau punya banyak kesempatan memberitahuku!"

Otaknya seperti sampai pada kesimpulan seketika itu. Kondou memandang Hijikata tajam, "Tadi malam, saat aku menelepon... Kau masih bersamanya kan? Suara batuk itu suaranya kan?!"

Saat Kondou semakin menekan Hijikata, Harada dan Yamazaki akhirnya menginterupsi.

"Kyokuchou!" Tapi Kondou tak bergeming.

Merasa harus melakukan sesuatu yang lebih, Harada angkat bicara, "Kondou-san! Aku juga salah! Harusnya aku sadar waktu itu--"

Tersadar akan kemana kalimat si anak buah, Hijikata akhirnya bersuara untuk memotongnya, "Diam, Sano!"

"Diam." Hijikata mengatakannya lebih pelan sambil menatap langsung Harada. Yang melihat bukan amarah yang ada di mata yang biasanya tajam itu, melainkan sedih dan permohonan untuknya tidak berkata apa-apa lagi.

"Khh!" Harada bisa apa selain akhirnya menunduk dengan tangan terkepal?

Sayangnya semua itu malah semakin memicu Kondou, "Sudah seperti ini kau masih mau menyembuyikan sesuatu dariku? Kau--"

"Dia tidak tahu apa-apa!" Potong Hijikata cepat. Dipandangnya mata Kondou lurus, berusaha mengungkapkan kejujuran, "Sougo jatuh saat patroli dengannya. Itu saja. Setelahnya aku yang mengurus semuanya. Aku yang bilang dia hanya flu. Aku yang lengah hingga dia pergi..."

Kondou nyaris bisa melihat mata Hijikata berkilat karena air mata. Mata yang membuat Kondou melepaskan cengkramannya. Lemas dia. Bahkan untuk menuruti otaknya yang meminta memukul Hijikata sekali lagi pun tidak bisa.

Tanpa melepaskan pandangannya dari sosok Hijikata yang jatuh terduduk dan tidak mengangkat kepala, Kondou berteriak. Bertindak di luar kebiasaannya, "Sanosuke! Beritahu Yamanami, rapat darurat pencarian Sougo sepuluh menit lagi! Informasikan regu patroli pagi untuk mencari Sougo! Pergi, sekarang!"

"Ba, baik, Kyokuchou!" Gugup dan merasa aneh, tapi Harada pergi. Bersama para prajurit yang merasa perintah itu juga untuk mereka.

Bersama para prajurit yang merasa salah memberi julukan Wakil Ketua Iblis pada Hijikata. Karena, Iblis jatuh tertunduk padanya. Kondou-san itu apa namanya?

Kondou berbalik, memunggungi Hijikata akhirnya.

"Toshi, aku percaya padamu."

Sungguh, Hijikata rela memberi hukuman seppuku pada dirinya sendiri daripada mendengar Kondou berkata penuh kekecewaan seperti itu padanya.

Tapi Hijikata tak bisa berbuat apapun lagi. Kondou melangkah pergi.

Darah. Juga panas. Dia merasakan rasa darah di bibirnya yang tergigit kuat-kuat. Matanya panas menahan air mata. Karena dia tahu menjelaskan tak merubah apapun. Menangis tak membuat Sougo tiba-tiba kembali.

Saat itu dia mendengar suara pelan dan serak Yamazaki yang ternyata tidak ikut pergi. Tanpa mengangkat kepala pun Hijikata tahu mata-mata itu menangis. Berjongkok di depannya.

"Fukuchou... Okita-taichou juga mengirimiku email... Aku langsung melacaknya sebisaku begitu membacanya... Tapi... Tidak dapat apa-apa... Kenalanku di keshogunan mungkin bisa melakukan sesuatu... Aku diizinkan?"

"Aa..." Serak, seperti bukannya suaranya. Dan sekenanya. Jawaban Hijikata itu.

"Fukuchou... Ini cuma bercanda kan... Mati sekalipun saya tidak bisa mungkin lupa Okita-taichou..."

Hijikata tak menjawab lagi. Yamazaki memeluk lutut, menenggelamkan wajah dan isak. Di depannya Hijikata terduduk memandang lantai. Bertanya,

'Sebenarnya aku ada untuk apa?'

====


Ah siapa sih aku ini? Hanya rakyat jelata yang penasaran kenapa anak itu tidak ada di tempatnya yang kemarin. Hingga akhirnya menyusup ke Markas Shinsengumi hanya untuk sakit hati. Kudapati semua adegan tadi sambil menahan tangis dan berdiri lemah tersanggah fusuma.

Ah siapa sih aku ini? Cuma maling.

Yang mengambil satu jaket anak itu sebagai kenang-kenangan.

~

Kode etik Shinsengumi pasal dua: Dilarang meninggalkan Shinsengumi. Hukuman bagi pelanggar adalah Seppuku.
.
.
.