gin san

Kuning Lembut

London hari itu berwarna kuning lembut. Menerobos lembaran tipis awan kelabu, cahaya matahari menjangkau tirai sifon jendelanya. Angin menerpa, menggerakkan kain tipis itu bersamaan dengan menempelnya bibir di pinggir cangkir bermotif kamelia. Napasnya terhela, ada sedikit senyum terpulas di bibir tipis yang tertutupi kumis dan janggut itu. Matanya masih menatap layar ponsel di meja. Thumbnail foto seorang pria berambut cokelat terang dengan wajah yang bersih dari kumis dan janggut serta memakai setelan kemeja masih setia terpampang.

Dia masih sulit percaya lelaki itu ada di London. 

Sudah sejak lama dia tahu lelaki itu akan datang. Tapi dia tak mau dihantui kecewa jika hal itu dibatalkan pada saat terakhir seperti yang baru saja terjadi, sehingga dia tidak meninggikan harapannya. Karenanya, saat lelaki itu menghubunginya, sekedar mengabari kalau burung besi yang membawanya berjam-jam dari belahan lain dunia itu akhirnya mendarat di Heathrow, perasaannya membuncah tak terkira. Dia berusaha menahannya tentu saja. Dia aktor kawakan, menutupi emosi? Apa susahnya?

Tapi sepertinya dia tak pernah berhasil mengendalikan perasaannya yang berkaitan dengan lelaki ini. Senyum kecil terpulas di bibirnya saat itu.

Asisten yang sudah menjadi teman dekatnya tentu saja menangkap perubahan wajahnya itu. Kata kenapa ditepisnya halus dengan jawaban semua baik-baik saja. Sesederhana itu.

Walaupun rasanya dia ingin berteriak dan segera berlari menuju tempat si lelaki.

Collapse )
gin san

[ Fanfic] Home, Love, Family

 DRIFTERS.

Cannon-verse.

Drabbles.

HijiAn. 

---------------

=

"Alexei," Hijikata membuka suara hati-hati dan menuai perhatian Anastasia seperti yang dia mau, "Apakah itu nama seseorang?"

Anastasia masih memandangnya.

"Kau sering mengucapkannya dalam tidur." Hijikata memberi tambahan sewajarnya.

Ada jeda. Anastasia berusaha menyusun kata-kata untuk menjawab. Bagaimana caranya untuk menjelaskan siapa itu Alexei? Dia lebih dari seorang yang sedarah dengannya. Dia berharga. Dia penghiburan di saat seolah semuanya semu. Dia adik tampan yang memompa semangatnya walau dia sendiri kemudian tak lagi mampu sekedar menggerakkan kaki. Bagaimana menyampaikan itu semua tanpa kehilangan esensi sedikit pun?

Ah...

"Ya," Anastasia menjawab pertanyaan awal Hijikata pelan, kali ini Hijikata yang menoleh padanya. Dan saat tatapan mereka bertemu, Anastasia menyampaikannya, "Dia adik lelakiku."

Tatapan itu tak terputus bahkan setelah hening mengapung. Hijikata sedang menerima informasi yang lebih dari sekedar 4 kata pendek.

Hijikata mengangguk mengerti akhirnya. Dia mengerti makna tersirat ataupun tersuratnya, dan itu cukup.

"Kondou-san."

Udara seperti membeku sesaat ketika Hijikata mendengar lidah Eropa Anastasia berusaha mengucapkannya.

Anastasia membalas sekilas tatapan tajam Hijikata kemudian menjawab, "Kau sering mengigaukan itu saat tidur."

Hijikata merasakan rahangnya kaku.

"Apa itu juga nama seseorang?"

Anastasia menutupnya dengan tatapan mata lurus dan pertanyaan bernada cukup lembut.

Collapse )
gin san

[ Tatoebanashi ] Kroasia

DRIFTERS. WARNET AU. SMUT. ToyoOku. HijiAn. START FROM HERE
----------
.
.

Sore yang cerah namun hening saat Toyohisa menggulung lini masanya tanpa fokus sama sekali. Satu artikel perjalanan, dan saat sadar dia sudah berada di Eropa.
.
.
Kroasia
When I won't give in she just goes along. Standing by my side, sitting home alone. I can make her laugh, and make her cry. She hates the way she loves me sometimes. Once in a blue moon I'll do something right. But she only hears 'I love you' when we're making love.
Lord, I'll always wonder why she love me so much.

.
.

Collapse )
.
.
---------------------
.
Author Note:
Collapse )
.
.

OMAKE (Obat seMbuh bAper berKEpanjangan)

“Apa-apaan nih?” Toyohisa berujar dengan nada tinggi. Tas kerjanya ditaruh begitu saja di lantai.
Collapse )

Belum sembuh juga? Silahkan pejam mata sambil dinina bobokan opa Rod Stewart.


With love,
Put.
me

[fanfic] 幸

DRIFTERS. Cannon. 豊奥.

-------------------

Toyohisa memacu kudanya secepat yang dia bisa. Rasa kaget, syok dan tidak percaya membuatnya lari dan melompat begitu saja ke atas kudanya. Dia pun masih bertanya-tanya soal surat kilat yang dibacanya baru saja. Surat yang berisi pemberitahuan dari istrinya, tentang gugurnya janin mereka.

Demi kepraktisan saat akan maju perang, mereka tinggal di benteng yang berbeda. Alasan itu dulu terasa masuk akal. Tapi sekarang Toyohisa mengutuk diri karena ada rasa tidak sabar untuk bisa segera sampai ke tempat istrinya berada.

Collapse )
gin san

[ Fanfic ] Family, Matters

Warning: Drifters Warnet AU! ; Slight ToyoAn
-----
Class meeting, waktu untuk anak rajin menuruti guru membersihkan kelas dan merapikan dokumen. Waktu bebas untuk sisa yang lainnya. Waktu untuk tidur di pangkuan Anastasia bagi Toyohisa setelah semalaman tidak tidur menemani Bunda bicara ke sana kemari ditemani berbotol Sherry.

Bangku panjang tersedia di tiap depan kelas dan ruang praktek. Maka bangku panjang di ruang praktek Teknologi Informasi yang berada di belokan ujung lorong lantai teratas gedung adalah tempat dimana mereka berada. Ruang praktek itu tidak menjadi prioritas untuk 'diurus' selama Class Meeting, tak akan ada yang ke sana. Menjadi tempat sepi yang disenangi Anastasia untuk membaca buku sambil sesekali mengelus lembut rambut Toyohisa yang tertidur lelap.

Suasana nyaman sepi ditemani semilir angin karena duduk di balkon lantai 4 itu hanya sementara. Derap langkah beberapa orang memecah semuanya.

"Di sini lo ternyata." Seorang siswi berkata sambil memimpin temannya yang lain untuk menghampiri Anastasia.

"Ada apa ya?" Anastasia hanya melirik sekilas sebelum menjawab sambil menatap bukunya lagi.

"Jangan pura pura gatau!" Sahut yang lain dengan nada lebih tinggi.

Anastasia terganggu.

"Bisa tolong ngomongnya pelan-pelan aja gak?" Dia menutup bukunya mendongak menatap si pengucap.

Mereka agaknya senang mendapati akhirnya Anastasia memberikan perhatian.

"Jadi, ada urusan apa?" Tanya Anastasia lagi dengan nada datar yang sama.

"Soal Toyohisa..." Jawab si pemimpin lagi.

Anastasia berkedip sekali, "Yakin mau ngomong di sini, sekarang? Ada orangnya lho."

Mereka sempat saling lirik, "Gapapa, dianya kan tidur." Akhirnya si pemimpin memberanikan diri.

Anastasia menatap datar mereka semua. Menghela napas dalam hati. Memang hanya sedikit orang di dunia ini yang tahu kalau Toyohisa pasti sudah bangun dari awal tadi terdengar bunyi langkah. Mengubah posisinya menjadi miring dengan wajah menghadap perut Anastasia adalah pertanda dia tidak suka, malas, dengan keadaan ini.

"Yaudah, terserah aja..." Lanjut Anastasia akhirnya, "Emang dia kenapa?"

Seperti sudah menunggu kalimat itu mereka bergantian mulai menyerang Anastasia.

"Bukan langsung ke dianya, tapi elu!"

"Jadi lo tuh siapanya dia sih-??"

"Kalau emang bukan siapa-siapa, ga usah nempel dia terus dong!"

"Mentang-mentang deket sama Bundanya Toyo!"

Anastasia refleks menutupi telinga Toyohisa dengan tangannya saat 'Bunda' terucap. Dia tidak mau Toyohisa terseret karena emosi.

"Udah?" Jawabnya pendek saat mereka bersama sama menyetujui kalimat tentang Bunda.

Mereka terdiam karena ketenangan Anastasia menghadapi ini semua.

"Jadi, intinya kalian mau tau gue siapanya dia, dan kalau bisa jauhin dia? Kenapa emangnya, hm?" Anastasia memandang mereka satu per satu. Posisinya yang duduk tidak memberi kelemahan, diangkatnya dagu tinggi-tinggi dengan mata menajam.

"Ya... Harus jelas semuanya lah! Karena ada lo kita jadi ga bisa ngedeket..." si pemimpin berusaha melawan walau kepayahan.

Anastasia mendengus tertawa, "Jelas aja ga bisa. Karena gue ga ngijinin. A, aa- ssh-" Memberi kode agar tak dipotong, Anastasia melanjutkan, "Karena, dia keluarga gue, punya gue. Ga akan gue kasih ke siapapun yang bawa-bawa Bunda di belakang dia kayak gini. Mau berharap apa sama yang ngomongin orang paling disayang Otoyo di belakang?"

"-!" Skak.

"Eh, gue ga ngelarang kalian deketin dia ya. Silakan aja, tapi sorry, bisa deket bukan berarti dia bakal jadi punya lo." Memberi ultimatum Anastasia itu.

Dia menyapu wajah kesal setiap anak perempuan itu, "Jelas? Ada lagi yang mau ditanya?"

"Bitch." Dengan itu dan jari tengah terangkat, mereka beranjak pergi meninggalkan Anastasia dan Toyohisa kembali bercengkrama dengan sunyi.

"Emma..."

"Hmm?" Anastasia menunduk melihat Toyohisa yang membuka mata.

"You're not a bitch, you're mine."

Anastasia tertawa pelan, sepertinya menutup telinga dengan tangan tidak memblokir suara dengan efektif.

"Hn." Anastasia mengacak rambut Toyohisa sekilas sebelum kembali membuka novelnya.

Toyohisa kembali terlentang memperhatikan wajah Anastasia yang membalik-balik lembaran bukunya, "Sometimes I wonder..."

"Hm?"

"Why it doesn't work for us."

Gerakan Anastasia terhenti, "It's... just doesn't work..."

"Kenapa?"

Tatapan mereka bertemu.

"Karena..." Anastasia mengatupkan bibir rapat-rapat, "Gue sendiri ngerasa apa yang gue rasain itu bukan cinta..." melihat ekspresi Toyohisa, Anastasia buru-buru melanjutkan, "Maksudnya, gue sayang elu, tapi... Rasanya itu bukan sayang orang jatuh cinta. Gak ada deg-degannya, gak ada awkwardnya... Gini deh, kan lo sekarang punya pacar, coba lo inget-inget, pasti ada kan momen salting, mau bilang 'sayang' susah--"

Toyohisa tercenung sesaat ketika menyadari inti kalimat Anastasia, dia memotongnya sambil tertawa kecil kemudian, "Iya.. kayaknya gue ngerti maksudnya gimana..."

"Iya gitu...."

"Ah, ya tapi elonya aja ga sadar dulu gue beneran suka sama lo."

"Hah-?"

Toyohisa tertawa kecil, membuat kalimatnya tadi sulit dibedakan antara kelakar atau bukan. Dia mengulurkan tangan, membuat Anastasia merunduk. Diciumnya pipi anak perempuan itu sekilas.

"...Untung gue ga jadi sama lo, udah punya pacar masih cium cium cewe lain..."

"Kalau lo pacar gue, ngepain gue nyium cewe laen..." Toyohisa menyahuti sambil memejamkan mata, menyamankan posisi untuk kembali tertidur, tak menyadari wajah Anastasia yang entah kenapa bersemu merah muda.

Kepala Toyohisa penuh jawaban yang dia cari. Memang, mengucapkan 'sayang' pada Anastasia semudah mengucapkannya untuk Bunda. Memang, menunjukkan sisi lemahnya pada Anastasia semudah menunjukkannya pada Babeh. 'Keluarga' mungkin tidak buruk juga. Walau dia tahu, jauh di ujung, di pelosok lubuk hatinya, masih ada rasa tak akan menolak jika keadaan menjadikan Anastasia pengantinnya.

"Ya... Emang sih kalau diinget, gue belom pernah liat lo blushing ke gue kayak lo blushing ke Bang Hiji." Ujar Toyohisa tiba-tiba saat Anastasia mulai membaca lagi.

Kaget dan kesal, "Fuck you."

"No, you won't, liar."

Toyohisa terkekeh, Anastasia memukulnya ringan dengan novelnya.
  • Current Mood
    blank blank
gin san

[SBT OWOP] Friendship - Chapter 09

One Week One Paper's Story Blog Tour  : Friendship - Chapter 09

Previous part:
Chapter 01 - Misteri Dana Operasional by Nana
Chapter 02 - Pertemuan by Depi
Chapter 03 - Perbincangan di Kafe by Naimas
Chapter 04 - Misi Wanda by Kiki
Chapter 05 - Ide Fiki by Nifa
Chapter 06 - Kedatangan Pria Misterius by Arini
Chapter 07 - Terkuak by Ana
Chapter 08 - Rapat Dadakan dan Rencana Baru by Dini

Chapter 09 - Belakang by Me

Collapse )
----

Di pihak manakah sebenarnya Dimas berada? Akankah semua ini terkuak di hadapan sekolah? Kelanjutannya dalam,

Next: Chapter 10 by Achev

-----
.
.
.
Note: Ey, ditulis dengan buru-buru dan kebingungan mau lanjutin yang mana =))) Silakan jika ingin memberi komen dan koreksiannya :D