?

Log in

No account? Create an account

Previous Entry | Next Entry

[SBT OWOP] Romance Angst - Chapter 11

One Week One Paper's Story Blog Tour  : Romance/Angst - Chapter 11

Previous part:
Chapter 1 - Luka Elisa by Nifa
Chapter 2 - Self Harm by Asti
Chapter 3 - Friendzone by Dini
Chapter 4 - Dua Sisi Koin by Nana
Chapter 5 - Teman Baru by Zu
Chapter 6 - Permulaan by Ruru
Chapter 7 - Luka by Nadita
Chapter 8 - Di Luar Dugaan by Depii
Chapter 9 - Terhempas Dari Cinta by Kiki
Chapter 10 - Perasaan Tezar by Dhiana

Chapter 11 - Jelas

Setelah tenggorokan terasa normal karena air putih, Elisa mengerjapkan mata memandang Teza yang mengalihkan wajah ke arah lain.

“Lo… Tadi, bilang apa…?”

“…Enggak, sorry Sa, lupain aja,” Tezar mengumpulkan serpihan sisa keberanian dan ketenangannya, “Anggap aja lo salah denger.”

Elisa terdiam, bibirnya mengatup rapat-rapat karena tidak tahu harus berbuat apa. Badannya pun terlalu canggung untuk bergerak. Hanya matanya yang bisa menatap sosok Tezar lekat-lekat. Serta hatinya yang kemudian lalu merasakan sesuatu yang sudah lama dia kubur dalam-dalam. Atau lebih tepatnya sengaja dia kubur.

Sebuah rasa hangat kasih sayang pemberian orang lain.

Elisa bukannya tidak menyadari keadaan hubungannya dengan Tezar. Bagaimana perasaan Tezar yang anak lelaki itu ungkapkan lewat perbuatan, bagaimana tatapan mata dan nada suara lembut Tezar padanya. Dan dia sudah memilih akan bereaksi seperti apa terhadap itu semua.

Namun nyatanya dia tak menyangka sama sekali satu kata yang karena kebetulan atau mungkin Tuhan sedang jahil pada mereka, Elisa jadi mengingat kenangan yang rasanya sudah lama sekali terjadi. Dulu sekali, terkubur, tertimbun oleh ingatan-ingatan menyakitkan. Kenangan tentang mamanya yang tersenyum mengatakan betapa dia mencintai Elisa dengan papa di sampingnya.

Semua kenangan dan rasa hangat itu dengan sadar atau tidak Elisa pendam, karena merasa sudah tidak penting, terasa semu, dan seperti dusta.

Walaupun sulit menghiraukan hatinya yang berkata kalau rasa hangat itu lebih bisa menyembuhkan daripada kelegaan sesaat yang ditukar dengan darahnya.

Tapi.

“…Sa? Elisa…??”

Suara Tezar dan tepukan ringan di pundak membuat Elisa refleks mendongak. Melihat wajah Tezar yang sekarang menatapnya dengan cemas.

“Lo gak apa-apa? …erm.. Sorry, jangan dipikirin sampe segitunya.. Gue—” Kalimat Tezar terpotong ucapan Elisa berikutnya.

“Bukan kok.” Elisa menggeleng berusaha meyakinkan, dia juga berusaha menarik ujung bibirnya—agar walau sedikit sekali—tersenyum, “Bukan… Gue cuma jadi mikir aja.”

Hening sesaat hadir setelah Elisa memotong sendiri kalimatnya. Dia menatap Tezar yang sekarang mengerenyit bingung.

“Gue… Jadi mikir… Soal lo, gue…” Elisa memulai lambat-lambat, “Soal kita.”

Tezar menelan ludah. Curhatan para sahabatnya yang kehilangan para wanita karena mencoba memastikan hubungan mendadak berkelabatan di benaknya. Panik.

“Iya Sa, kan gue udah bilang lupain aja…”

“Mana mungkin kan.” Elisa membalas lemah, “Selama ini lo ada di samping gue apapun yang terjadi. Gue inget kok saat memberi batas sama lo, memberi label lo ini apanya gue.”

Tezar teriak dalam hati, firasatnya semakin memburuk.

“Gue terlalu takut Zar. Can you imagine listen to your mom cry for hours? Cursing from your father and such?” Elisa menggenggam tangan Tezar, “Gue takut tersakiti seperti mama, dan membuat lo kecewa seperti papa kecewa sama gue, kalau kita sama-sama.”

Oke, ini rasanya aneh. Boleh lega tidak? Ini pertanda baik bukan? Hati Tezar sekarang penuh tanda Tanya.

“Gue sadar, lo pantes dapet yang lebih baik dari gue. Bukan perempuan yang hidupnya dia biarkan kacau karena kesulitan bangkit, karena terlalu cengeng dan merasa hopeless.” Elisa menyisir rambutnya dengan jari, agak menjambaknya untuk menahan air mata, “…Tapi gue juga takut kehilangan lo. Satu-satunya jaring laba-laba saat gue ada di dalam sumur.”

Tezar beku, tertohok. Ingin senang tapi ditampar kenyataan dan pertanyaan. Seperti apa Elisa sebenarnya, dan apa dia benar sanggup bersama gadis ini. Selama ini matanya terkabuti rasa sayang pada gadis itu. Tapi toh hatinya membuat dia duduk di pinggir ranjang dan merengkuh Elisa dalam diam.

“Apa lo ga akan menyesal? Apa perasaan lo itu bukan sekedar iba? Gue takut. Papa bilang gue bikin hidup dia ancur karena gue sebuah kesalahan. Gue ga mau itu menimpa lo, gue ga mau jadi kesalahan buat lo, karena gue sayang lo Zar…” Kalimat terakhir dikatakan Elisa sambil menangis di pundak Tezar yang dia rengkuh erat-erat.

Ada hening beberapa saat sebelum Tezar berani angkat bicara lambat-lambat sambil mengelus rambut Elisa, “Sa, gue juga ga tau nantinya bakal kayak gimana. Tapi menurut gue, kalau perasaan gue cuma karena iba dan penyesalan, gua ga akan ada di sini, meluk lo sekarang.”

Elisa tidak bisa berkata apa-apa, memberi tanda bagi Tezar untuk memberanikan diri sekali lagi dan melanjutkan, “Hubungan bukan soal kita tertawa melihat pelangi, tapi bagaimana menghadapi badai dengan satu payung. Gue akan di samping lo terus Sa, jadi pasangan lo, lo mau ga gue temenin hadapin badai ini sama-sama?”

Anggukan pelan Elisa di pundaknya membuat Tezar mendadak lega dadanya.

“Tapi kalau gue sih mending neduh dulu tunggu badai reda, pas badai pake payung mah kita terbang Zar…”

Elisa mencoba mengingat bagaimana rasanya dulu tertawa bersama Tezar di sekolah, dia mencoba berkelakar dengan suara serak. Membuat Tezar terkejut.

“Yaelah… Kan emang quotenya gitu. Lagian biar romantis dikit, biar ceritanya jadi genre romance.” Tezar membalas setelah mengumpulkan kesadaran dan melepaskan peluknya. Dia selalu berpikir untuk membuat Elisa tertawa dan ini salah satu kesempatan.

Elisa sedikit tertarik ujung bibirnya, tersenyum tipis. Tezar membalas tersenyum melengkung sempurna.

Merasa suasanannya bisa kembali baik, Tezar kembali beranjak berdiri dari pinggir kasur, “Oke, lanjutin makannya.”

Suasana kembali cair dengan sedikit perbedaan aura hangat di sekitar dua insan yang berusaha melangkah bersama-sama.

Setidaknya itu yang dilihat oleh Mama Elisa dari celah pintu. Ini waktunya dia berganti giliran dengan Tezar menunggui Elisa, dia pikir dia harus menghibur Elisa dan menenangkannya tapi melihat itu semua ada sedikit rasa lega di hati wanita separuh baya itu. Melihat anaknya yang selama ini rapuh berusaha merangkak berkat seorang Tezar, dia pun berusaha mengambil sebuah keputusan.

Mungkin ini sudah saatnya menjelaskan pada Elisa ada apa sebenarnya, apa arti kata ‘kesalahan’ yang terlontar waktu itu.

Dengan pikiran membuncah namun penuh determinasi wanita itu memasuki ruangan Elisa.

Terlalu hanyut dengan pikirannya sendiri untuk menyadari yang mencuri dengar kejadian itu bukan hanya dia. Seorang Alya berbalik dan melangkah pulang dengan hati penuh perasaan membuncah saat wanita itu membuka pintu dan berkata, “Elisa sayang, sudah lebih baik?”


Next Part: Kalibrasi by Ana

------------------------------------~!~------------------------------------

Pertama kali ikut event beginian lolol setres sendiri pas tau jadwal postingnya bentrok sama kuliah, eh pas dimundurin bentrok lamaran sepupu =))) Ampun deh ah, makasih buat mba kiki dan dhiana yang jadi berubah jadwalnya karena saya m(_ _)m

Pertama kalinya nulis karena ter dan di-paksa ;;p Idenya ga muncul alami jadi gatau dah itu di atas ancur minah kayak apa, siapapun yang baca mohon koreksiannya jika berkenan. Terima kasih.